Entry: ulang tahun Nidji Monday, February 04, 2008



KEKUATAN ORKESTRASI

 

Hari ini, tanggal 3 Februari 2008, Grup Band Nidji ulang tahun yang ke-6. Sebuah perayaan diadakan oleh RCTI dengan mendatangkan beberapa band papan atas. Menghadirkan grup band papan atas? Tidak, sebagian yang datang adalah para vokalis grup band, bukan pasukan lengkap tiap personil band. Dani Dewa, Ariel Peter Pan, Armand Maulana Gigi adalah para vokalis yang diundang. Mereka menyanyikan lagunya Nidji bersama Giring.

 

Jika Nidji adalah acara intinya, lalu apa hiburannya? Ternyata bintang tamu yang diundang untuk menghibur adalah Letto. Lha kenapa Letto disebut sebagai bintang tamu sedangkan para vokalis undangan jadi pengiringnya? Ternyta Letto punya nuansa lain. Ia sama sekali bukan Ndiji, sehingga tidak bisa disatukan dengan hingar bingar musik Nidji yang energik. Letto datang menawarkan kelembutannya, kepiawaiannya dalam mengemas kata dan meramu bahasa. Ia datang dengan karakternya yang halus dan romantis. Keromantisan ini dikemas dalam pilihan kata yang mengalir dan sangat puitis. Praktis Letto membawakan lagunya sendiri, bukan menyanyi bersama Giring. Maka Lettolah bintang tamunya dalam acara ulang tahun Nidji.

 

Berbeda dengan Letto, Ndiji menghentak dengan karakternya yang lugas. Kesederhanaan bahasa diramu dengan musik yang mengalun rancak dan tingkah pola Giring yang lincah. Kau dan Aku, Hapus Aku, Shadow adalah beberapa single yang dimuntahkan oleh Nidji.

”Kau s’makin menjauh. Kau tetap menjauh dari aku”

 

”Kau dan aku selalu untuk selamanya. Kau dan aku selalu untuk bersama”

 

”Sadarkan aku Tuhan dia bukan milikku. Biarkan waktu waktu hapus aku. Yakinkah aku Tuhan dia bukan milikku. Biarkan waktu waktu hapus aku”

adalah sebagaian kelugasan yang disuarakan oleh Nidji. Atau tepatnya dinyanyikan oleh Giring. Kesederhanaan lirik ini diimbangi dengan kelarutan musik yang membuncah dan gaya Giring yang memukau menarik pandang. Alhasil adalah orkestrasi musik Nidji yang meriah, heboh, berenergi. Simfoni telah diciptakan dengan sempurna. Kesatuan yang menyuarakan keunggulan.

 

Kembali kepada Letto yang terpisah dari barisan lagu-lagu Nidji. Letto punya kompleksitas lirik yang berbeda dengan Nidji. Oleh karena itu, keanggunannya dipisahkan dari hentakan gegap gempita Nidji. Musiknya yang mengalun sederhana bak air yang mengalir dihiasi dengan suara Noy yang halus melantukan kata-kata indah. Ini juga merupakan orkestrasi keunggulan. Coba rasakan!:

”Kau datang dan pergi o begitu saja. Semua ku terima apa adanya. Mata terpejam dan hati menggumam. Di ruang rindu kita bertemu”

 

”Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya. Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra yang kan membelaimu cinta”

 

Ketidakbersandingan Nidji dan Letto adalah karena keduanya punya kekuatan khas yang berbeda. Sang sutradara panggung telah membagi lini kekuatan dengan apik. Seperti halnya jamu atau obat yang digunakan untuk kegunaan kesehatan tertentu, materi lagu dan vokal Noy tidak cocok untuk para musisi Nidji yang dahsyat. Begitu juga sebaliknya, alunan musik Letto yang lembut akan memperlemah bahkan mematikan gerak Giring jika keduanya dipadukan. Inilah karakter yang menempati posisinya yang tepat. Bisa saja Noy ikut menyanyikan lagu Ndiji bersama Giring. Tetapi sutradara tidak mau menghilangkan karakter Letto. Berbeda dengan Dani, Arman, Ariel yang dari sononya punya hentakan yang hampir sama. Mereka lebih greng jika disatukan dengan gegarnya musik Nidji.

 

Orkestrasi nan indah tidak hanya terjadi dalam Nidji (beserta gerombolan vokalis) atau Letto saja. Penataan yang cerdas juga terjadi pada skenario panggung, dimana Letto masih tetap menonjolkan kelembuatannya yang mendayu dan Nidji gayeng dengan hentakannya yang enerjik. Keduanya tercipta dalam hidup yang larut dengan alunan musiknya. Jika bersenandung dengan Letto, maka kelarutan akan terbawa pada pilihan kata dan alunan kalimat yang mempesona, tidak jarang bikin merinding atau air mata mengalir. Sedangkan bila bercengkerama dengan Nidji, maka kita melarut dalam gegap gempitanya yang kadang tanpa terasa membuat kaki tersentak, tangan bergerak dan mulut bersorak [ ]

   1 comments

rina
May 23, 2008   11:48 AM PDT
 
Review yang menarik...

Yeah, kita menghargai kedua band itu karena mereka original... berkarakter... dan oleh karenanya mendapat tempat sendiri di hati masyarakat... ceile...

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments