 |
Thursday, January 24, 2008
My Lovely Campus
Setiap orang bangun dengn pagi, bergerak menuju siang, melaju ke malam. Pagi adalah penggerak kita sebagai bekal beraktivitas di kala siang. Bayangan yang tergambar di waktu petang menuntun kita menuju ke gambaran itu. Apa yang kita bayangkan akan terjadi di malam hari membentuk perilaku di pagi, siang, dan sore hari. Demikianlah setiap hari kita menjalani hidup. Kita didorong oleh kekuatan yang kita miliki dan ditarik oleh bayangan yang kita bentuk. Kekuatan pendorong berasal dari kejelasan kita mengingatnya, sedangkan imajinasi yang kita bentuk juga merupakan kekuatan yang berasal dari apa yang kita ingin.
Seperti halnya tumbuhan yang hidup berawal dari biji. Tumbuhan mendapatkan kekuatan dari kehidupannya sebagai benih. Tumbuhan dilahirkan dengan bekal air dan unsur hara dari dalam tanah. Tanah, air dan hara yang berada di dalamnya analog dengan pengalaman-pengalaman yang kita ingat, pengalaman yang memberikan energi, kekuatan, kehidupan. Biji dari tanaman terus tumbuh menguak tanah, meretas semak dan penghalang. Kebutuhannya untuk mengolah makanan menciptakan gerak naluriah untuk menuju kepada sumber energi, yaitu matahari. Matahari adalah sumber energi utama dari tanaman. Matahari menggerakkan pabrik makanan dalam tumbuhan yang disebut dengan fotosintesis. Pada manusia, matahari adalah imajinasi di masa depan, apa yang diangan-angankan di waktu yang akan datang. Kejelasan dari bayangan imajinasi masa depan akan memberikan kekuatan penarik yang luar biasa. Berawal dari energi pengalaman kita bergerak menuju kepada impian. Gerak kita secara alami ditentukan oleh pengalaman masa lalu dan impian masa depan. Hanya saja kitalah yang akan mendesain bagaimana gerak alami itu berjalan tetap menuju kepada apa yang kita inginkan.
Alur kehidupan tumbuhan merupakan gambaran nyata cara alam semesta bekerja, yang menjaga keseimbangan, yang berpindah dari stabilitas menuju kekacauan untuk mencapai stabilitas baru yang lebih menarik. Cara bekerja alam yang berhasil mengatasi berbagai tantangan sepanjang sejarah terbentuknya alam. Tumbuhan memang lamban dalam bergerak, tetapi kelambanan itu menyimpan berjuta kreativitas, imajinasi yang tak terbayangkan. Selalu ada jalan untuk mengatasi tantangan. Itulah mengapa tumbuhan mempunyai variasi paling kaya dibandingkan mahluk lainnya. Sebagaimana, kata penutup dalam film Jurrasic Park, “Kehidupan akan menemukan jalannya sendiri”.
Manusia secara alami juga punya desain dasar yang sama dengan tumbuhan. Ia menjadi “hidup” ketika menyadari siapa jati dirinya, menyadari apa kekuatan dalam dirinya. Kekuatan yang terwujud saat potensi manusia menjadi tindakan, menjadi pengalaman, menjadi hikmah kehidupan. Hikmah ini disampaikan, diceritakan, dan disebarluaskan yang menjadi inspirasi bagi yang lain. Cerita tentang tindakan terbaik dan pengalaman puncak adalah sumber kekuatan yang menggairahkan, memberi energi, dan menghidupkan, --yang menjadi pijakan untuk mencapai impian di masa depan. Impian masa depan juga merupakan suatu pusat yang menarik manusia untuk bergerak menuju ke arah imajinasi tersebut. Bermodalkan kekuatan dan terarah pada impian masa depan, manusia menentukan langkah demi langkah, cara menjalani kehidupannya, cara menghidupkan kehidupannya. Pada titik inilah, berangkat ke kampus untuk kuliah menjadi tindakan yang berbeda diantara kita. Kuliah bagi yang satu mungkin hanya aktivitas menghabiskan waktu luang, tetapi bagi yang lain menjadi langkah kecil menuju impian besarnya di masa depan.
Bagaimanapun juga, setiap langkah kecil apabila kembali pada kodrat alamiah atau cara alam bekerja, akan menemukan jalannya sendiri meraih impian. Seperti tanaman, gerak alamiah melekatkan kita pada kesadaran akan masa kini. Sebagaimana, tanaman bergerak pada saat ini di tempat berpusatnya. Meskipun demikian, energi yang diserap dari tanah dan pancaran sinar matahari menggerakkan tanaman, membentuk geraknya secara alami. Begitu juga dengan manusia, ia digerakkan oleh energi pengalaman dan kekuatan imajinasi.
Jika manusia sendiri, maka individu alamilah yang bergerak. Jika ia bersama, maka kelompok alamilah yang bergerak. Jika manusia mengingat pengalamannya sendiri dan berimajinasi akan impiannya sendiri, maka kekuatan sendirilah yang dilahirkan, gerak sendidrilah yang dilakukan. Namun jika manusia menggalang kekuatan bersama dan meramu impian bersama, maka surga dunialah yang akan tercipta. Oleh karena itu, hidup bersama dengan berbagai cara adalah pilihan buat manusia. Kita berteman, berkeluarga, berkelompok, berorganisasi, bermasyarakat adalah bentuk upaya menggali kekuatan dan bergerak bersama menuju masa depan. Komunitas adalah bentuk alami (organik) dari perkumpulan. Salah satu perkumpulan yang mencoba sadar akan kekuatan yang terhimpun di masa lalu dan mencoba membangun impian di masa depan adalah Komunitas Apresiatif (Appreciative Community).
Komunitas Apresiatif bergerak dalam berbagai bentuk, diantaranya Airlangga Impian dan Indonesia Impian. Airlangga Impian merupakan penelitian yang lahir di Fakultas Psikologi Unair dari Komunitas Apresiatif. Dengan topik Kampusku Tercinta (My Lovely Campus), Airlangga Impian berusaha menggali kekuatan Universitas Airlangga berdasar pengalaman terbaik di masa lalu dan meperjelas imajinasi tentang Universitas Airlangga di masa depan. Sehingga dari sini bisa dirumuskan bersama apa langkah kecil yang harus dilakukan menuju kepada impian bersama tersebut, yaitu Airlangga Impian. Cerita-cerita inspiratif di kampus adalah sumber energi untuk Universitas Airlangga bergerak menuju impian. My Lovely Campus akan menjadi kekuatan dahsyat bagi Universitas Airlangga yang akan meledak dan mewujudkan impian bersama untuk kebahagiaan bersama warga Airlangga.
Posted at 08:05 pm by Rudi Cahyono
tags
BURAM LALU
Pendusta telah menangis
Benar-benar tersedu dan bukan bualan
Rintih? lebih dari penyesalan
Renungan adalah tilas kegalauan masa lalu
Terdampar dalam jurang
Terperosok dalam kelam
Terlempar jauh dan kembali jauh
Sendiri tertatih
Tak sendiripun merintih
Cahayamu telah datang
Dekatmu semakin jauhku
Tahukah kau, butaku tak bersinar
Isak senyum kemenangan
Tangis seberang pembunuhan
Ku berbaring dalam remang
Tak perlu tunggu dua abad tuk sadari itu
Akarmu selamatkan dari luka, sakit dan sandungan
Yakinlah kain lusuhmu akan kembali putih
Lenyapkan jika aku serupa noda
Larilah dalam damai pikirmu
Ini adalah puisi yang secara tidak sengaja saya temukan di tong sampah. Dengan otak yang tengil, tak lepas dari kejahilan (bukan kejahiliahan) coba otak-atik untaian suara hati yang tak bertuan ini. Mungkin sebelumnya saya turut berduka atas lusuhnya puisi yang sudah berbau, kecoklatan, kertas compang-camping ala kadarnya, ada sedikit sambal tomat di bagian bawah kertas, tulisan tangan yang malas dan penuh keraguan. Aku pikir kertas tak sepenuhnya mencerminkan kondisi otak penulisnya, maksudnya otak kotor (sory kalau ada yang tersinggung). Bak pemulung yang hanya ingat lapar, saya lagi menghayati peran. Saya ambil tulisan itu layaknya seorang pahlawan yang dikirim untuk penulis (he..he..). Atau mungkin bukan selalu pahlawan bagi penulis, karena bisa saja tulisan ini memperluas peradangan pada hati penulis.
Dengan sok empati, saya coba selami isi hati penulis. Tak perlu tabung oksigen kalau sekedar ikut merasakan kegalauan dan kesepian dari penulis. Karena mahal (tabung oksigen, red.), maka enaknya pakai saja kata-kata, atau sebut saja katarsis diktif dari penulis ini.
Wah kayaknya penulis lagi nyesal banget akan masa lalunya. Lihat aja judulnya, “Buram Lalu”. Tapi ternyata penyesalan itu lebih menyesalkan apa yang menjadi penyesalan sang tertuju. Artinya, puisi itu ditujukan kepada orang lain yang juga larut dalam penyesalannya, dan inilah yang lebih disesalkan penulis puisi itu. Dialog hati ini bisa dilihat dengan adanya beberapa kata ganti orang kedua (tertuju) yang dihadapkan dengan orang pertama (penulis puisi), misalnya “cahayamu telah datang”, “dekatmu semakin jauhku”, “tahukah kau, butaku tak bersinar”.
Saling tuduh terjadi pada awalnya dengan kata-kata yang diungkapkan penulis, “pendusta”. Hanya sebuah komunikasi cermin karena keduanya telah menyatakan sebagai pendusta. Kesejajaran dengan kesamaan perasaan bisa diikuti dari beberapa baris pertama tentang “benar-benar tersedu dan bukan bualan”, ini lanjutan pengukuhan dari diri sebagai pendusta. Kata “rintih ? lebih dari penyesalan” juga menceritakan perasaan penulis dan menjelaskan perasaan tertuju kepada tertuju sendiri. Perasaan yang sama juga dirasakan keduanya (penulis dan tertuju) dengan kalimat, “renungan adalah tilas kegalauan masa lalu”.
Menurut saya, ini lebih dari sekedar puisi, tapi ini suara hati. Karena selanjutnya, tamparan demi tamparan diberikan pada tertuju. Tapi juga sayang, tamparan itu seperti halnya nafas postmodern yang membentur dinding dan kembali menjadi gema. Tertuju telah tenggelam dalam penyesalannya dan penulis hanya sendiri dalam sepi. Ini bisa ditunjukkan dengan “cahayamu telah datang” yang dirangkai dengan “dekatmu semakin jauhku”. Ini bisa ditafsirkan dengan cahaya yang didapat oleh tertuju, tapi penulis semakin jauh. Bisa juga dikatakan jauhnya dari cahaya yang sementara ini cuma tertuju yang mendapatkannya. Ini juga semacam ketidakpedulian tertuju pada penulis. Tertuju larut dan asyik dengan apa yang dicapainya tanpa peduli si penulis. Ini bisa ditunjukkan dengan “tahukah kau, butaku tak bersinar”. Selain itu dengan baris yang sama, penulis merasa bahwa tertuju telah meninggalkan penulis dalam kekalahan dan juga diperkuat oleh “tangis seberang pembunuhan”.
Penulis juga dengan berat hati melepaskan semua dan menyerahkan pada kehendak-Nya. Bagi penulis, tertuju adalah yang utama karena keselamatan, kebahagiaan dan ketenangan yang penting adalah untuk tertuju. Semua ini bisa ikut dirasakan dalam baris-baris, “akarmu selamatkan dari luka, sakit dan sandungan”, “yakinlah kain lusuhmu akan kembali putih”, “lenyapkan jika aku serupa noda” dan “larilah dalam damai pikirmu”. Mungkin penulis adalah penganut “cinta tak harus miliki” (wah sok tahu banget).
Buat penulis puisi, trimakasih atas inspirasinya dan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika apa yang saya rasakan ketika membaca puisi Anda ternyata tidak sama dengan apa yang Anda rasakan dan alami. Akhirnya untuk penulis, saya sarankan nikmati saja kesendirian Anda karena Tuhan maha adil. Kata-kata “ku berbaring dalam remang” bukan berarti Anda kalah, tapi itu waktunya Anda untuk berkontempelasi [ ]
Posted at 08:03 pm by Rudi Cahyono
tags
Tuesday, January 22, 2008
DUNIAKU BUSUK
erasaan dan cerita dimulai ketika aku tergila-gila dengan dunia khayal personal yang konon katanya Freud sebagai kompensasi dari letupan-letupan yang lolos dari represi. Kakiku menuruni sebuah tangga rumah suci. Aku hampir tergelincir ketika aku menginjak bagian samping dari sepatu wanita. Aku menyadari bahwa tubuhku separuh telah merosot ke bawah kasur tanpa ranjang. Tidak seperti biasa, hariku kali ini tidak dihiasi dengan bau menyengat pandan dari cukilan kesenangan.
Aku sadar dan terbangun. Lalu apa? Tak lebih dari jebakan-jebakan akan kejamnya rutinitas, aku kudu mandi. Kulihat berbagai wadah sabun tercecer membentuk koloni seolah segerombolan simpatisan sedang kampanye. Lifebuoy, Nuvo, Give, Lux, Gatsby, semua tak lebih dari pembunuhan rasio oleh cerobong-cerobong kapitalis. Tak pernah aku temukan satupun alat pencuci rambut dengan wadah jirigen tak bermerk seperti kata dosen gendengku.
Dasar anak kos-kosan, dengan modal numpang, pasta gigi, sabun, sampo, tak perlu khawatir, aku cuma tinggal bawa handuk dan sikat gigi. Sekedar basah dengan busuknya air sumur kota metropolitan, aku cabut dari kamar mandi. Tak ku hiraukan kebimbangan akan sudah atau belum ku siramnya WC yang berisi sisa-sisa kehidupan. Dengan badan yang masih agak basah, aku mencoba berpakaian rapi dengan baju yang sudah setengah bulan tak ku cuci. Berputar-putar dulu dengan balutan senyong-nyong sisa-sisa embahku yang sekarang sudah dikerubuti cacing tanah di rumah barunya.
Motor butut yang sering menguras uang kuliahku yang kian hari kian mencekik leher, ku pacu dengan sedikit kehawatiran akan terjadinya aksi dorong. Kampus yang jaraknya lumayan membuatku bosan. Bukan jaraknya, tapi tak adanya pilihan jalur yang bisa membuatku tidak memicingkan mata dari jajahan Amerika. Trend pembantaian dan buasnya orang memakan daging dan meminum darah sodara-sodarinya di Pakistan, Afganistas, Irak dan puing-puing kolonialisme lainnya. Texas Fried Chicken, KFC, CFC, sampai Mr. Mc.Dee sudah berakar di negara ini. Kelatahan pribumi yang berbaur dengan bule bermata sipit, penjajah dan dominator ekonomi, menajdikan mereka bangga dan merasa patut menginjak kepala gelandangan yang makan sehari sekali saja hanya hasil kais di tong sampah. Jadi tak heran jika ada kabar pembukaan ruko atau mall baru, lalat-lalat inilah yang congok memburu dan berebut jatah makan.
Bangunan-bangunan mungil yang konon disebut butik juga dipenuhi dengan pemburu-pemburu prestise. Tak perduli bagi mereka meskipun baju itu juga dijual di Gembong dengan harga pribumi. Besarnya duit yang dihamburkan juga menjadi alat manipulasi yang menopengi dan mencemari arti dari kualitas. Dengan alunan yang sama, irama penjajahan sayup-sayup terdengar di sana. Lagu-lagu Amerika, Inggris, Prancis dan banyak lagi, masih mengalun menghiasi setiap jalanku.
Aku juga melihat, di sebuah bangunan elit terjadi demonstrasi. Beberapa mahasiswa berusaha mendobrak pagar gedung pemerintah itu. Sebenarnya mereka mendobrak karena ingin masuk atau cuma ingin ngerusak? Lha wong pintu timur gedung sudah terbuka kok malah cari perkara. Mungkin kerusakan di bumi ini sudah melewati tahap perilaku berpola dan kukuh menjadi budaya. Aku disapa dengan lambaian teman yang ikut demo. Aku merespon dengan gaya yang sama, namun dengan perasaan yang miris. Selalu saja anak ini ikut serta. Padahal kalau aku tanya, dia selalu ndak tahu tujuan demo. Sangat ironis.
Peristiwa itu masih bergelayut hingga aku mulai mencium bau kampusku yang telah lama diwarnai oleh perlombaan mengeruk modal. Di sebuah belokan aku melihat orang berjualan. Menarik sekali, karena yang dijual adalah nasib orang. Seorang peramal intelek dengan dasi di leher membawa map dengan tulisan Psychological Assessment. Aku cukup manggut-manggut dengan pemandangan yang menjemukan ini.
Untunglah motorku beraksi ketika aku sudah hampir sampai. Maklum motor tua lagi boros. Paling juga lagu lama, kehabisan bensin. Dengan berdayung kaki, aku lanjutkan perjalananku ke arah pusat rehabilitasi, sebuah penjara komersil yang memeras keringat bapakku.
Aku tak langsung masuk kampus masih ada waktu untuk mengobati hausku. Aku ke kantin belakang kampus. Tak pelak, traumaku kambuh yang sejak tadi memang sudah terpancing untuk muncul. Anak-anak yang dilabeli orang kaya yang mampu membeli ilmu-ilmuan dengan mengompas papinya, seperti biasa nongkrong di situ. Berbagai gaya dipentaskan, mulai dengan gaya rambutnya yang diilhami film F-4, sampe apa yang mereka konsumsi. Minuman dengan cap Coca Cola, Pepsi Cola, dan berbagai merk cola yang lain menjadi pemandangan yang khas. Mungkin dengan standar merekalah ibu kantin mematok tarif jualannya, hingga imbasnya sampai juga ke aku.
Cukup sudah, biar ndak tambah parah, aku kembali ke kampus. Entah karena ingin menerapi diri dengan floading, aku coba menyempatkan melewati bagian belakang kampus yang katanya tempat cangkrukan para anggota dewan. Memang di situ lagi bertengger orang-orang yang sama. Permainan yang menonjolkan gaya hidup barat juga di gelar di situ. Bukan jenis permainannya, tapi cara bermainnya. Terlihat seorang anak yang membaca buku berbahasa Inggris. Dia tidak berbaur dengan teman yang lain, entah karena dia kuper, risih atau malah memang tidak diterima di kalangan “bule”. Dengan kaca mata tebal, dan mungkin juga dengan muka tebal, dia membaca lembar demi lembar dengan gaya duduk bak orang hiperaktif.
Aku masuk agak tergesa-gesa karena hari ini dosen killer giliran menunjukkan otot-ritasnya pada mahasiswa. Beberapa teman yang seharusnya juga kuliah tenang-tenang saja di loby. Ada yang memberi tahu adanya pengumuman bahwa jam kuliah diundur. Tak tahu, perasaan apa yang berkecamuk, senang, sedih, prihatin, marah atau….. semua campur aduk. Memang aku baca di papan jam kuliah diundur 4 jam lebih lambat. Sudah lah, toh ada waktu buatku untuk mberesin tugas yang belum rampung.
Aku masuk ruang baca. Wah ramai sekali. Dari “Definisi konseptual….”, “Item yang bagus….”, “Proposal kuanti….”, sampai, “Eh…cowok itu keren ya”, “Gimana acara malem mingguan kemaren?” semua berlomba memasuki telingaku. Ku lihat seorang yang asik dengan tugas kuliahnya di pojok ruangan. Hanya bayangan romantisme yang disadarkan dengan tamparan untuk menghitung diri. Aku coba kerahkan sisa tenaga dan pikiran untuk konsentrasi dengan tugsku. Aku pilah-pilah literatur-literatur asing yang kian hari kian banyak di sini. Mudah-mudahan bukan hanya sebagai gaya-gayaan biar dikatakan kampus top. Tapi bener-bener sebagai arena dalam memperluas dan memperdalam cakrawala.
Tugas selesai aku sempurnakan. Dengan senyum puas aku sandarkan punggung di kursi. Kembali aku lihat sosok itu masih dengan asyiknya mengerjakan tugas. Kembali perasaan itu gentayangan di benakku. Gadis manis berselera ningrat. Gembel tetaplah gembel, aku sadar itu. Gembel hanya punya hak untuk mengeluh. Seperti kali ini, aku hanya bisa meluapkan persepsi yang bisa salah atau bener, tergantung persepsi juga yang dibingkai dalam sikap dan perilaku.
Jadi, jika cerita ini terlalu pasaran atau emosional, itu terserah pembaca dalam menilai. Tetap bijak kiranya jika menanggapi sesuatu bukan hanya dengan otak, tapi juga dengan hati.
Aku terperanjat dengan sebuah kabar bahwa hari ini kuliah tidak jadi diadakan, dosen sedang ke luar kota. Akhirnya dengan geram ku tunjukkan kemarahanku sekaligus tak bisa menutupi kegembiraanku. Perasaan yang carut marut, entah karena bayangan ayu wajah kawan lama atau karena kebobrokan duniaku.
Posted at 10:44 pm by Rudi Cahyono
tags
MEKANISASI MEKANIS
Sebelumnya, mungkin lebih enak Anda melakukan hal berikut. Jika Anda punya kesempatan berada di alam terbuka, maka pergilah ke tempat dimana Anda merasa tenang. usahakan Anda sedang sendiri di tempat itu. Tapi sayang sekarang Anda tidak bisa langsung melakukan, karena Anda sedang berdiri membaca tulisan ini. Selanjutnya ambillah posisi dimana Anda merasa relax, baik sambil duduk, berbaring, atu apapun asal posisi tubuh Anda tidak tegang. Pandanglah ke arah tempat atau sesuatu yang jauh dari sentuhan konstruk, misalnya langit, sawah atau alam terbuka sehinga pandangan Anda terasa lepas. Syukur jika Anda orang yang tidak berkaca mata, tapi untuk yang pakai, jangan kecil hati, tetap pakai kaca mata Anda dan usahakan otot mata Anda tetap dalam keadaan relax. Apa yang anda lihat masukkan ke dalam pikiran sebagaimana adanya. jangan menjahili sesuatu yang nyaris alami dengan kosntruk-konstruk. Pikiran relax, tapi jangan sampai ngelantur. Rasakan setiap sensasi pada tubuh anda sebagaimana adanya. bintang bersinar, angin sejuk berhembus, matahari yang cerah dan hangat, serta kicau burung yang merdu. Rasakan semuanya dengan kepasrahan kepada nurani Anda. jika Anda orang yang yakin pada fitrah, maka biarkan persepsi Anda bermain. Anda akan merasakan matahari itu hangat, air atau angin itu sejuk, kicau burung itu merdu. Coba lakukan hal ini sesering mungkin hingga Anda tidak merasa berat melakukannya.
Uraian tersebut yang ternyata lebih mirip sebuah tips adalah usaha secara psikologis untuk melepaskan dari konstruk aktif maupun pasif. Konstruk aktif adalah interaksi (interkognisi maupun interafeksi) merupakan usaha untuk membentuk diri sendiri menjadi apa yang diinginkan diri dan lingkungan. Diri atau self menjadi obyek dari permainan atau konspirasi antara lingkungan dan individu itu sendiri. Dua hal inilah yang membuat orang stress, depresi, cemas dan berbagai gangguan psikologis lainnya, bahkan juga fisiologis. Bekerjanya kognisi dan afeksi pada tensi tinggi, inilah yang menjadikan psikolog menjadi laris. Tapi bukan masalah larisnya, yang menjadi masalah adalah efek individual yang menjadi tanggung jawab kita, bukan hanya sebagai psikolog, tapi yang terpenting sebagai manusia. tapi beruntunglah orang yang masih bisa merasakan kecemasan, depresi atau stress karena fitrah Anda telah menjalankan fungsinya dalam bersentuhan dengan lingkungan.
Kondisi psikis yang seperti ini lebih mudah terdeteksi. dan salah satu dari patologis menjadi ciri sekaligus penyebab dari psikotik. Kebebasan kita telah dirampas dalam sebuah peperangan antara ego individual dan ego sosial. Perhatian dan tenaga kita yang dihabiskan dalam peperangan itu, lagi-lagi dimenangkan oleh konstruk sosial yang menjadikan locus of control internal kita melayani pesanan sosial. Ketakutan kepada kembalinya individu pada dirinya sendiri menyebabkan orang selalu berusaha untuk conform atau lebih parah lagi menjadi budak sosial. Penyesuaian terhadap lingkungan menjadi timpang, dimana akomodasi dan asimilasi tidak lebih dari kata menang kalah. Ketika akomodasi menang, maka orang menjadi penguasa dan cenderung takut kehilangan kekuasaan atas lingkungannya. Usaha dalam mempertahankan equilibrium individual ini juga sama menguras tenaganya dengan ketika kemenangan ada pada pihak asimilasi, dimana kita kembali dikuasai oleh lingkungan. Agar lebih membumi, sebaiknya akan disajikan sebuah realitas konkrit. Ambil saja contoh yang ngetren, misalnya pacaran. Kenapa kita harus pacaran, ternyata tidak diletakkan pada sebuah landasan yang sadar sebagai individu. Nilai yang kita usung untuk pacaran adalah nilai konstruk. Jika keadaannya seperti demikian, saya kira pacaran atau tidak adalah dua pilihan yang sama-sama konyol. Sama-sama punya kerawanan patologis. Solusinya adalah kita harus kembali kepada individuasi (meminjam istilahnya Jung). apa itu individuasi? nanti kita coba jelaskan sedikit.
Sebelumnya kita akan kembali permasalahan kedua yang juga menyebabkan orang mengalami beban psikologis. Sama juga sebenarnya dengan penguasaan diri atas lingkungan, tapi bedanya proses yang terjadi berikut ini adalah proses hegemonik. Secara tidak sadar manusia jadi teralienasi (atau lebih tepatnya mengalienasi diri) dengan menjadi mekanis. Jika orang yang mengalami tekanan psikologis karena ketundukan kepada lingkungan dapat dengan mudah mendeteksi ketimpangan yang terjadi, dalam kasus ini lebih parah subyek tidak merasa bahwa dirinya mengalami penyimpangan. Orang sering terjebak dengan hal yang mekanis, mematikan kreativitas dan rasa empatinya yang notabene adalah fitrah. Orang yang seperti ini lebih sulit sembuh karena bukan cuma tidak sadar akan keadaannya, tapi juga tidak sadar akan kesadarannya. Dapatkah kita rasakan kalau kita sebenarnya sudah terjebak dengan rutinitas, menyia-nyiakan banyak potensi yang kita miliki. Kita tidak lebih hanya dicetak sebagai robot. Terus gimana caranya agar kita merdeka. Lepaskan diri dari konstruk untuk mengarah kepada individuasi. Untuk contoh keadaan yang kedua ini dapat kita rasakan dengan disetirnya kita oleh banyak tugas. Bukan cuma masalah beratnya beban yang kita pikul, tapi efek psikologis yang kita alami. Bukankah kita psikologi? Tentunya harus dipertimbangkan efek psikologis dari sebuah perilaku disamping efek fisiknya. Dari berbagai tugas yang diberikan, rasanya tidak yakin juga kalau tugas itu sudah ditelaah oleh dosen yang memberikan tugas. Kadang tugas itu diberikan dengan pola seperti penjajahan. Seharunya dosen mempunyai empati dalam hal ini. Kalau tidak bisa, ndak usah empati pada beratnya tugas lah. Coba empati pada tugas itu sendiri, apakah sebuah tugas itu relevan. Bukan juga cuma soal manfaat, tapi masalah apakah tugas itu sudah cukup mendapatkan analisa sehingga efek psikologis sudah menjadi salah satu pertimbangan. Tidak semua bab atau sub bab dalam mata kuliah yang seenaknya bisa dijadikan tugas (misalnya bikin makalah). Mungkin ada bagian yang sudah cukup dengan kuliah ceramah atau diskusi.
Sekaranglah waktunya kita lakukan apa itu individuasi. Tidak penting pengertian individuasi, yang penting kita bisa menyadarinya. Kita adalah indiviudu yang punya otoritas atas tubuh dan pikiran kita sendiri. Ini bukannya slogan dari pemberontakan, inilah yang seharusnya menjadi suara dari nurani. Lingkungan hanya referensi, alat atau tawaran. Kita punya hak untuk mentransformasikan, berpikir, bersikap dan mengambil tindakan atas relalitas. Keterikatan hendaknya dibingkai dalam sebuah kesadaran. Karena kuatnya lingkungan, maka empati rasanya sudah waktunya diwujudkan dengan perlawanan. Jika karena alasan yang sama (kuatnya otoritas lingkungan red.), maka salah satu cara bisa dengan memanage diri, misalnya dengan relaksasi di atas. Tapi perlu juga hati-hati, karena relaksasi yang sudah dibentuk itu bisa merupakan konstruk baru. Akhirnya apapun yang Anda pilih, pastikan itu adalah pilihan yang sadar.
Posted at 10:40 pm by Rudi Cahyono
tags
TIPUAN RAGA MENELAN JIWA
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesssia Raya…
Memang benar apa yang tergambar dalam otak Anda bahwa kalimat tersebut adalah penggalan dari lagu kebangsaan kita, apa lagi pada frasa yang terakhir disebutkan Indonesia Raya. Bukan, bukan itu masalahnya, coba kita cermati lagi kata-kata “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya…”. Pada bagian tersebut kita diajak untuk membangun bangsa bukan hanya pada badan, tetapi juga jiwa.
“Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya”. Kalimat ini juga menarik, terutama pada kata “seutuhnya”, kata yang secara maknawi setara dengan bangun jiwa dan raga. Untuk itu akan coba dikaji dua kata itu dalam eksistensi dan esensinya yang berkaitan dengan individu maupun manusia pada umumnya.
Kata jiwa dan raga tentu secara arbitrasi sudah dipercaya telah mengada dengan bertolak dari sebuah konstruksi bahasa (semantik). Jiwa dapat diartikan seluruh kehidupan batin manusia (jadi keseutuhan yang terjadi dari perasaan batin, pikiran, angan-angan dan sebagainya) (Poerwadaarminta,1984). sedangkan berdasarkan apa yang dikatakan Jung sebagai Psyche dapat diartikan totalitas segala peristiwa psikis, baik yang disadari maupun yang tidak disadari (Suryabrata, 2002:156). Di sisi lain, raga dapat diartikan badan (Poerwadarminta, 1984). Badan di sini bukan berarati tubuh mahluk yang menjadi rumah jiwa secara badani, tapi merupakan wadah bagi jiwa universal. Jiwa dan raga bukan komplementasi, juga bukan komponen yang intersubstitutif.
Pengembangan dan perkembangan dari dua unsur entitas tersebut berjalan secara implikatif, entah merupakan bentuk yang motivatif atau rentetan peristiwa kausal (sebab-akibat). Implikatif bukan berarti cuma sekedar interaksi antara jiwa dan badan, tapi juga jiwa-jiwa, jiwa-badan atau badan-badan. Inilah sebuah dinamika yang bisa terjadi dalam struktur kecil individual maupun sosial. Jadi dalam melihat proses pengembangan dan perkembangan ini, kita pandang saja sebagai proses yang berlaku general terhadap jiwa dan badan, baik dalam individual maupun sistem yang melibatkan banyak manusia. Hal ini dikarenakan pada prinsinya setiap pembicaraan mengenai jiwa dan raga selalu melibatkan manusia, baik sebagai subyek pelaku, maupun penderita, baik sebagai sistem individual, maupun dalam sistem sosial.
Dari situ coba kita lihat dalam realita yang cenderung dikotomis dalam memperlakukan perkembangan kedua unsur tersebut sebagai rekayasa yang tendensius. Sebuah proses yang juga berangkat dari background yang dikotomis, seperti Barat dan Timur, rasional dan empiris, statis dan dinamis dan sebagainya.
Latar belakang yang dikotomis tersebut juga akan menyeret kehidupan ke salah satu kutub dengan berbagai pembenaran. Penyeretan itu akan merebut segalanya menjadi milik jiwa atau raga. Ambil satu contoh saja, tradisi empirisme dan rasional yang masing-masing ingin menindas, meniadakan yang lain dan menimpanya dengan salah satu unsur, jiwa atau raga. Empirisme menolak jiwa dan lebih mengakui kebenaran yang dibangun dari pengamatan realita. Di kutub yang lain, yaitu rasionalisme, lebih ingin menutup dunia dengan rasio, menenggelamkan dalam jiwa.
Permasalahan ternyata bukan pada dikotominya, tapi pada keadaan ketika dikotomisasi tersebut diikuti gerakan pelenyapan salah satu sisi. Organ tanpa kualitas jiwa akan menjadi kosong, wadah tanpa isi. Begitu juga jiwa tanpa raga tidak akan bisa jalan dan mengaktual. Kalau kita paham fenomena ini, terus kenapa kita masih terjebak kegiatan-kegiatan yang elementaristik ? Tapi itu tetap merupakan hak untuk memilih. Perlu kita pertanyakan apakah kecantikan raga diimbangi dengan keelokan jiwa. Mungkin tanpa sadar kita telah terseret ke dalam salah satu kutub, atau mungkin dengan kesadaran menyeret ke salah satu kutub (yang lain).
Dengan kedok positif thinking, ternyata kita terseret kepada salah satu jiwa atau raga. Positif thinking bisa juga hanya manipulasi-konstruksi agar kita bisa terhipnotis dan merasa jiwa dan raga, infrastruktur dan suprastruktur sudah seimbang. Dari situ, pertanyaan yang lantas timbul adalah, apakah kemegahan kampus Pskologi secara raga diikuti dengan pengembangan jiwanya. Mari kita tilik lagi. Jangan sampai pikiran kita disosialisasi atau bahkan diinternalisasi (secara tak sadar) oleh teori indeks yang mengukur keberhasilan dari standar materi yang sama sekali tidak representataif.
Dalam usaha pembaharuan infrastruktur fisik memang diikuti dengan pemanfaatan fasilitas dengan berbagai aktivitas peningkatan kualitas. Setidak-tidaknya ada uasha penempaan fisik dan mental. Mengapa saya katakan demikian? Bagaimana tidak, jika berdirinya lab diikuti dengan banyak pemanfaatannya, walaupun masih pragmatis. Di sisi lain juga suprastruktur mulai banyak ditambal disana-sini, meski tabalannya kadang-kadang juga dedel kembali.
Terus apakah peningakatan kedua komponen itu sudah sampai pada substansinya? Ternyata dandanan itu tidak menyentuh sisi jiwa yang lain secantik raganya. Mahasiswa masih dikondisikan dalam rimba mekanistis-pragmatis.
Berbagai atribut pembelajaran masih belum menyentuh akar permasalahan, malah terjebak pada sebuah gerakan robotisasi, sekedar onggokan yang tidak mampu didayagunakan. Memang instrumen-instrumen tersebut merupakan bentuk geliat kemauan untuk menggugat, tapi malah yang lebih dikhawatirkan adalah instrumen menjadi bumerang mekanisasi.
Kejenuhan dan kegilaan dalam mengeruk kapital oleh penguasa yang punya tangan-tangan kuat untuk mengendalikan sisitem sering membuat kita terlena, tenggelam dalam konstruksi yang dibangunnya. Adalah sebuah reaksi timbal balik, dimana sisitem yang dibangun, meskipun merugiakn, tapi sangat didukung, bahkan oleh subyek penderita (sebuah upaya obyektivikasi).
Tulisan ini adalah tawaran kalau tidak disikapi sebagai ajakan, untuk menjadi sadar akan realita yang mencekoki kita dengan materi agar daya nalar dan kekritisan kita mati. Kesadaran bukan cuma ingin menang sendiri. Kita dari pihak bawah (baca mahasiswa) juga punya banyak kesalahan atau sebut saja kebodohan. Selain mendukung akan adanya pembodohan diri, kita juga cenderung ingin enaknya, kuliah hanya datang, duduk, diam dan pulang, skripsi terus lulus.
Teringat juga dengan apa yang dikatakan seorang dosen sosial, kita mahasiswa psikologi, tanpa beli buku-buku psikologi pun bisa lulus dengan nilai A. Lalu apa tanggung jawab dari nilai A tersebut? Sayang kalau kuliah sekian lama, kita hanya mendapat label dan kertas-kertas sertifikat tanpa makna.
Bagaimana selanjutnya, juga menuntut adanya pematangan jiwa dan raga. Tinggal apakah kita akan menjadi manusia hewan, manusia robot atau menjadi manusia seutuhnya. Jika memang demikian mari kita mulai perjuangan untuk memilih, berpikir dan bertindak. Mari kita wujudkan cita-cita bangsa untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya [ ]
Posted at 10:30 pm by Rudi Cahyono
tags
Cinta Cinta Lagi!!! pfiuh...
Pecinta yang Bercinta
uncak dari mencinta adalah bercinta. Hanya saja mereka punya tempat dan waktu yang berbeda. Bercinta terjadi pada suatu waktu dan di tempat tertentu, sedang mencinta mengembara di semua tempat, bergulir di setiap waktu. Sepasang suami istri terkadang bercinta di ranjang dan dilakukan malam hari. Mencinta bisa dilakukan di ranjang, di tempat ibadah, di gedung bioskop. Mencinta bisa dirasakan di waktu pagi, siang, sore, atau petang.
Pada dua hal ini, selera orang juga berbeda. Sebagian orang lebih suka bercinta, tapi tidak mencinta, tapi sebagian yang lain lebih memilih mencinta daripada sekedar bercinta. Meskipun banyak juga orang yang bercinta dengan mencinta atau mencinta dengan bercinta. Keduanya hampir susah dibedakan. Bercinta dengan mencinta berarti menyertakan pemeberian cinta pada saat bercinta, sedangkan mencinta dengan bercinta berarti ada kebutuhan bercinta untuk bisa menyerahkan cinta. Bercinta dan mencinta ada di waktu dan tempatnya, tetapi tidak terpisah. Tak terpisah bukan berarti menyatu. Mereka hanya saling melengkapi.
Penyatuan antara bercinta dan mencinta terjadi ketika memberi dan menerima terjadi bersamaan, ada atau tidak ada yang diberi atau yang menerima. Mencinta biasanya diwujudkan dengan impian untuk selalu berdekatan, ingin bermesraan ketika berduaan, ingin mencurahkan kasih jika terjadi pertemuan. Bayangan yang dicinta selalu hadir, setiap saat ingin bersama, itulah mencinta. Sembol-simbol ini akan bermakna ketika kita melakukannya dengan bercinta. Bukan bercinta seperti sepasang pria wanita yang sedang bersetubuh, tapi bercinta setiap saat dengan representasi apapun. Ketika bayangannya datang, maka dengan bayangan itulah kita bercinta. Jadi bayangan sang kekasih bukan sekedar simbol untuk mencinta. Jika suaranya terngiang, maka dengan suara itu kita bercinta, bukan sekedar theme song yang mendatangkan bahagian tatkala di putar di telinga. Ketika mencium wanginya, maka dengan bau itu kita bercinta, bukan deodorant yang membuat kita ilfil karena ingat bau keteknya. Bila semua itu membuat kita bercinta, maka coba bayangkan ketika kita sedang bersenggama. Hanya sentuhan fisik, penetrasi dan kuluman bibir yang membedakannya.
Bagaimana setiap saat kita bisa menjadi pecinta yang selalu bercinta? Maka apresiasilah senjatanya. Seorang wanita yang memuja pria dambaan, maka apapun yang terpancar darinya adalah keanggunan, setiap katanya bijaksana, segala dandanannya bak pangeran di singgasana. Tak perduli tubuh berbau amis, penampilan bagai pengemis, kata orang amis-amis (amit-amit maksudnya). Semua bukan kenyataan terbalik, bukan rasionalisasi, semua nyata. Jika mencinta dan bercinta hanya seperti stiker dan kertas perekatnya, maka cinta memang benar-benar buta. Jika keduanya terpisah, maka cinta telah menulikan telinga. Seorang pecinta yang selalu bercinta tidak menjadi buta. Ia memejamkan mata menikmati alunan, menghayati rabaan. Seorang pecinta yang selalu bercinta bukan sedang pekak. Ia sengaja menutup kuping untuk membiarkan alunan cinta bertalu di gendang telinga.
Apresiasi tidak menjadikan pecinta menunda bercinta. Dengan apresiasi sang pecinta bisa merasakan nikmat setiap saat. Keindahan bercinta selalu hadir bagi pecinta yang apresiatif. Pecinta apresiatif telah menjiwai dirinya sebagai pecinta, telah menghayati cintanya, begitu menyanjung yang dicintainya. Semua dilakukan bukan karena ingin mendapatkan balasan, bukan karena imbalan. Hanya ada satu jawaban buat pecinta apresiatif, yaitu mencintai cinta, bercinta dengan cinta. Sekali lagi, bagaimana caranya menjadi pecinta yang selalu bercinta? Cintailah apresiasi dan apresiasilah cinta.
Posted at 12:09 pm by Rudi Cahyono
tags
Cina cinta Lagi!!! pfiuh...
Menjadi berharga adalah belajar menghargai. Setiap
penghargaan meningkatkan harga. Demikianlah, menjadi apresiatif adalah menjadi
pecinta yang haus akan cinta. Setiap saat ingin bertemu, karena ingin segera
meluapkan rasa rindu. Setiap saat menghadirkan bayangan, ingin berjumpa. Setiap
sentuhan adalah rasa yang tercurah untuk sang kekasih.
Mencintai berarti menyerap cinta. Cinta tak akan
habis jika diberi. Cinta akan selalu hadir setiap kita menghargai. Seperti
pecinta energi terserap dari yang dicinta untuk menjadi lemah tapi perkasa,
rapuh tapi tegar. Mencinta berarti mengungkap rasa. Setiap mencinta maka diri
menjadi kuat, setiap organ menjadi dialiri energi. Tapi pada saat bersamaan
diri tak kan melihat dengan ”mata kiri”, tak kan kuasa menghina, tak kan suka
mencela. Cinta menghapus semua. Ia menghadirkan keanggunan, mendatangkan
keagungan. Setiap penghargaan diberikan atas nama cinta. Pecinta yang selalu
ingin bercinta. Pecinta yang selalu ingin memberi harga. Karena dengan itu ia
tetap menjadi sang pecinta, menjadi yang bergarga.
Seperti tumbuhan yang terus bergerak ke arah
kehidupan, ke arah kekuatan. Ketika benih tertimbun dalam tanah, bukan keluhan
akan kegelapan yang ia rasakan, tapi sejuknya tanah dan energi dari unsur hara.
ia menyatu dengan tempatnya berada, merasakan sebagai bagian yang menghidupkan.
benih terus tumbuh menguak tanah, menembus menuju kepapada energi yang
dibutuhkannya. kesetiaan tumbuhan kepada segala yang memberi hidup sebenarnya
adalah cinta. ia bergeak menuju apa yang dicintai, yaitu energi.
Dengan AI akan kita
tumbuhkan cinta, dengan AI kita akan mencinta, dengan AI kita akan menerima
cinta.
Posted at 12:07 pm by Rudi Cahyono
tags
Cinta Cinta Lagi!!! pfiuh
Bercinta Ala Pecinta
“Di sini
gelap..”, mataku melihat sekeliling. Sejurus ia mengalah, ”Wow, udaranya
sejuk!”, kulitku tak mau kalah. Pori-poriku jadi melebar. Aku rasakan setiap
tetes cairan menelusup, membuat ubun-ubunku dingin. Kepalaku seperti mengembang.
Ada sesuatu yang mendorong di ujung kepalaku. Aku tumbuh, aku membesar, aku
berubah jadi kekar, aku bertambah lebih tegar.
Ku kuak tanah yang memungkinkanku membayangkan siang.
Jendela terbuka dan ku sadar akan cahaya. Aku tengok kembali tempatku berpijak
tatkala malam. Tanah gelap yang mungkinkan ku rasakan nikmatnya terang.
Menatap masa
depan berbekal kenangan. Silau menuntunku pada tatap energi harapan. Kembali
pori-poriku terbuka. Ku rasakan tiap sentuhan lembut mengalir tanpa luka.
Kekuatan alam melesat terarah, menuju pusara diri. Setiap degupnya menyuarakan
rasa. Di sini, dalam hati.
Kini mulai ku rasakan yang berbeda. Cinta yang
diterjemahkan dalam bahasa remaja. Setiap ku tatap ronanya hatiku berbunga. Setiap
ku dengar suaranya tak henti mendamba. Setiap ku sentuh kulitnya dadaku
meronta. Rasaku berkelana dalam cintamu. Pujaku menggilas benci pada sisi yang
sama. Semua terbawa pada satu gairah, cinta, cinta, dan cinta.
Aku jatuh cinta
apa yang aku lihat, apa yang aku dengar, apa yang aku cium, apa yang aku rasa,
apa yang aku kecap. Segala yang menerpa kuserap dengan rasa cinta. Semua yang
menyapa ku sambut dengan penuh kasih. Cintaku setia, seperti manusia mencintai
sesama, manusia mencintai keluarga, manusia mencintai kekasih, dan manusia mencintaiTuhannya.
Air menghapus dahaga, memberi energi, tanah menyuapi dengan hara. Namun cintaku
menggerakkanku ke sana, ke arah surya. Cinta yang setia menuntunku untuk selalu
bercengkerama, cinta yang setia membimbingku untuk selalu bersenggama, cinta yang
setia menggiringku jatuh di pelukannya. Oh, suryaku, kekasihku, cintaku.
Demikianlah, aku menggunakan tangan untuk
bercinta, kaki mengejar sang dicinta, mata nyalang menerjang setiap bayang
kasih. Setiap diri dipenuhi cinta, bergerak dengan cinta, menyambut dengan
cinta, berbagi cinta, memberi cinta, mencintai pecinta, setia pada yang
dicinta.
~ The Plant ~
Posted at 12:00 pm by Rudi Cahyono
tags
Saturday, September 29, 2007
berawal dari cengkerama obrolan ngalor ngidul, muncul pertanyaan dari seorang teman, sebut saja sherly (nama sebenarnya).
Sherly: Mas, kalo kamu suka sama orang, apakah sayangmu diberikan semuanya?
Aku: kalo pertanyaannya suka, ya yang aku berikan adalah sukaku semuanya. Tapi kalo pertanyaannya sayang, maka aku berikan sayangku semuanya.
Sherly: Mas ga takut sakit?
Aku: sakit?
Sherly: maksudnya sakit hati
Aku: kenapa harus takut? Kalo ga mau sakit hati, emang iya lah. Siapa sih orang yang mo sakit hati. Tapi kalo takut, ya buat apalah. Toh emang hidup kalo ga ketawa ya menangis, kalo ga senang ya sedih. Tapi bukan berarti dikotomis seperti itu sih.
Sherly: lha terus?
Aku: ya ada kalanya emang kudu menikmati kesedihan, atau menangisi kebahagiaan. Semuanya jg tergantung makna yang dilekatkan
Sherly: bisa seprti itu ya Mas? Trus soal sakit hati tadi, Mas pernah ngalami?
Aku: sering
Sherly: oh ya?!
Aku: mangkannya itu, aku udah terbiasa kali ya. Ada perubahan dari menganggap sakit hati sebagai penderitaan hingga menjadi sakit hati sebagai bagian dari hidup, seni menjalaninya.
Sherly: Mas berani juga ya?!
Aku: berani? hehehehe... bukan gitu. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Jika km memilih A maka B, C, D merupakan lingkup yang mempengaruhi ketika pilihan disajikan. Tetapi ketika keputusan diambil, maka yg lain tidak lebih dari bunga2nya. Jalani aja pilihanmu, toh km jg ga akan bisa membandingkan dengan pilihan yang lain yg sudah terabaikan.
Sherly: tapi kok masih banyak orang yg menyesali pilihan ya Mas?
Aku: itulah arti dari konsistensi pilihan dan konsekuensinya. Sebernya mereka rugi, karena hanya bisa membandingkan dengan rekaannya, bukan senyatanya. Mereka hanya membandingkan pilihannya (misalnya A) dengan B', C', D' dll yang hanya rekaan, bukan B, C, D dst yang sesungguhnya. Rugi kan?!
Sherly: iya jg ya Mas. Trus kalo milih cewe neh ya Mas. Kalo tiba2 ada yg lebih cantik gitu gimana dg pilihan kita?
Aku: itu lah pilihan, ttp ada konsekuensinya. Hanya saja, apakah kita bisa konsisten dengan itu. Kalo kita memilih sesuatu yang lebih, terus gimana sesuatu yang kurang. Sedangkan semuanya ada kelebihan dan kekurangannya masing2. Bisa jadi kita mengingkari seseorang karena kekurangannya dan kita memilih sso yg menurut kita lebih. Gimana perasaan kita jika ternyata orang yg kita anggap lebih itu jg lebih memilih orang lain yg dianggap lebih? Kesenangan atau kebahagiaan itu bisa dibangun, diciptakan, toh dialog terciptanya kebahagiaan jg bisa dibentuk dari diri kita sebagai pusat, meskipun lingkungan jg berpengaruh. Tapi paling tidak naluriah kita yg egosentris ttp memegang peranan. Jadi kebahagiaan atau kesenangan kita ttp ada pada diri kita, tergantung bagaimana kita memaknai sst
Sherly: ok deach Mas. Lain kali disambung ya?!
Ake: Ok
Posted at 02:17 pm by Rudi Cahyono
tags
Sunday, August 12, 2007
Pelangiku Sherina
Titik - titik hujan, masih membasahi Kala kau menyapa, pelangiku Ingin kuberlari, jumpa bidadari Bawalah aku pergi, bersamamu Bisikkan kisah yang lucu Nyanyikanlah lagu merdumu Merah, kuning, jingga dan ungu Sentuhkan warnamu dalam gaunku
Ingin ku menari Hingga kau sembunyi Rindu pelangiku, datang lagi
Posted at 03:48 pm by Rudi Cahyono
tags
|
 |
|
|
 |
 |
i'm a man who looking for something which make me exist on the world
|
 |
|
|