 |
Tuesday, January 22, 2008
DUNIAKU BUSUK
erasaan dan cerita dimulai ketika aku tergila-gila dengan dunia khayal personal yang konon katanya Freud sebagai kompensasi dari letupan-letupan yang lolos dari represi. Kakiku menuruni sebuah tangga rumah suci. Aku hampir tergelincir ketika aku menginjak bagian samping dari sepatu wanita. Aku menyadari bahwa tubuhku separuh telah merosot ke bawah kasur tanpa ranjang. Tidak seperti biasa, hariku kali ini tidak dihiasi dengan bau menyengat pandan dari cukilan kesenangan.
Aku sadar dan terbangun. Lalu apa? Tak lebih dari jebakan-jebakan akan kejamnya rutinitas, aku kudu mandi. Kulihat berbagai wadah sabun tercecer membentuk koloni seolah segerombolan simpatisan sedang kampanye. Lifebuoy, Nuvo, Give, Lux, Gatsby, semua tak lebih dari pembunuhan rasio oleh cerobong-cerobong kapitalis. Tak pernah aku temukan satupun alat pencuci rambut dengan wadah jirigen tak bermerk seperti kata dosen gendengku.
Dasar anak kos-kosan, dengan modal numpang, pasta gigi, sabun, sampo, tak perlu khawatir, aku cuma tinggal bawa handuk dan sikat gigi. Sekedar basah dengan busuknya air sumur kota metropolitan, aku cabut dari kamar mandi. Tak ku hiraukan kebimbangan akan sudah atau belum ku siramnya WC yang berisi sisa-sisa kehidupan. Dengan badan yang masih agak basah, aku mencoba berpakaian rapi dengan baju yang sudah setengah bulan tak ku cuci. Berputar-putar dulu dengan balutan senyong-nyong sisa-sisa embahku yang sekarang sudah dikerubuti cacing tanah di rumah barunya.
Motor butut yang sering menguras uang kuliahku yang kian hari kian mencekik leher, ku pacu dengan sedikit kehawatiran akan terjadinya aksi dorong. Kampus yang jaraknya lumayan membuatku bosan. Bukan jaraknya, tapi tak adanya pilihan jalur yang bisa membuatku tidak memicingkan mata dari jajahan Amerika. Trend pembantaian dan buasnya orang memakan daging dan meminum darah sodara-sodarinya di Pakistan, Afganistas, Irak dan puing-puing kolonialisme lainnya. Texas Fried Chicken, KFC, CFC, sampai Mr. Mc.Dee sudah berakar di negara ini. Kelatahan pribumi yang berbaur dengan bule bermata sipit, penjajah dan dominator ekonomi, menajdikan mereka bangga dan merasa patut menginjak kepala gelandangan yang makan sehari sekali saja hanya hasil kais di tong sampah. Jadi tak heran jika ada kabar pembukaan ruko atau mall baru, lalat-lalat inilah yang congok memburu dan berebut jatah makan.
Bangunan-bangunan mungil yang konon disebut butik juga dipenuhi dengan pemburu-pemburu prestise. Tak perduli bagi mereka meskipun baju itu juga dijual di Gembong dengan harga pribumi. Besarnya duit yang dihamburkan juga menjadi alat manipulasi yang menopengi dan mencemari arti dari kualitas. Dengan alunan yang sama, irama penjajahan sayup-sayup terdengar di sana. Lagu-lagu Amerika, Inggris, Prancis dan banyak lagi, masih mengalun menghiasi setiap jalanku.
Aku juga melihat, di sebuah bangunan elit terjadi demonstrasi. Beberapa mahasiswa berusaha mendobrak pagar gedung pemerintah itu. Sebenarnya mereka mendobrak karena ingin masuk atau cuma ingin ngerusak? Lha wong pintu timur gedung sudah terbuka kok malah cari perkara. Mungkin kerusakan di bumi ini sudah melewati tahap perilaku berpola dan kukuh menjadi budaya. Aku disapa dengan lambaian teman yang ikut demo. Aku merespon dengan gaya yang sama, namun dengan perasaan yang miris. Selalu saja anak ini ikut serta. Padahal kalau aku tanya, dia selalu ndak tahu tujuan demo. Sangat ironis.
Peristiwa itu masih bergelayut hingga aku mulai mencium bau kampusku yang telah lama diwarnai oleh perlombaan mengeruk modal. Di sebuah belokan aku melihat orang berjualan. Menarik sekali, karena yang dijual adalah nasib orang. Seorang peramal intelek dengan dasi di leher membawa map dengan tulisan Psychological Assessment. Aku cukup manggut-manggut dengan pemandangan yang menjemukan ini.
Untunglah motorku beraksi ketika aku sudah hampir sampai. Maklum motor tua lagi boros. Paling juga lagu lama, kehabisan bensin. Dengan berdayung kaki, aku lanjutkan perjalananku ke arah pusat rehabilitasi, sebuah penjara komersil yang memeras keringat bapakku.
Aku tak langsung masuk kampus masih ada waktu untuk mengobati hausku. Aku ke kantin belakang kampus. Tak pelak, traumaku kambuh yang sejak tadi memang sudah terpancing untuk muncul. Anak-anak yang dilabeli orang kaya yang mampu membeli ilmu-ilmuan dengan mengompas papinya, seperti biasa nongkrong di situ. Berbagai gaya dipentaskan, mulai dengan gaya rambutnya yang diilhami film F-4, sampe apa yang mereka konsumsi. Minuman dengan cap Coca Cola, Pepsi Cola, dan berbagai merk cola yang lain menjadi pemandangan yang khas. Mungkin dengan standar merekalah ibu kantin mematok tarif jualannya, hingga imbasnya sampai juga ke aku.
Cukup sudah, biar ndak tambah parah, aku kembali ke kampus. Entah karena ingin menerapi diri dengan floading, aku coba menyempatkan melewati bagian belakang kampus yang katanya tempat cangkrukan para anggota dewan. Memang di situ lagi bertengger orang-orang yang sama. Permainan yang menonjolkan gaya hidup barat juga di gelar di situ. Bukan jenis permainannya, tapi cara bermainnya. Terlihat seorang anak yang membaca buku berbahasa Inggris. Dia tidak berbaur dengan teman yang lain, entah karena dia kuper, risih atau malah memang tidak diterima di kalangan “bule”. Dengan kaca mata tebal, dan mungkin juga dengan muka tebal, dia membaca lembar demi lembar dengan gaya duduk bak orang hiperaktif.
Aku masuk agak tergesa-gesa karena hari ini dosen killer giliran menunjukkan otot-ritasnya pada mahasiswa. Beberapa teman yang seharusnya juga kuliah tenang-tenang saja di loby. Ada yang memberi tahu adanya pengumuman bahwa jam kuliah diundur. Tak tahu, perasaan apa yang berkecamuk, senang, sedih, prihatin, marah atau….. semua campur aduk. Memang aku baca di papan jam kuliah diundur 4 jam lebih lambat. Sudah lah, toh ada waktu buatku untuk mberesin tugas yang belum rampung.
Aku masuk ruang baca. Wah ramai sekali. Dari “Definisi konseptual….”, “Item yang bagus….”, “Proposal kuanti….”, sampai, “Eh…cowok itu keren ya”, “Gimana acara malem mingguan kemaren?” semua berlomba memasuki telingaku. Ku lihat seorang yang asik dengan tugas kuliahnya di pojok ruangan. Hanya bayangan romantisme yang disadarkan dengan tamparan untuk menghitung diri. Aku coba kerahkan sisa tenaga dan pikiran untuk konsentrasi dengan tugsku. Aku pilah-pilah literatur-literatur asing yang kian hari kian banyak di sini. Mudah-mudahan bukan hanya sebagai gaya-gayaan biar dikatakan kampus top. Tapi bener-bener sebagai arena dalam memperluas dan memperdalam cakrawala.
Tugas selesai aku sempurnakan. Dengan senyum puas aku sandarkan punggung di kursi. Kembali aku lihat sosok itu masih dengan asyiknya mengerjakan tugas. Kembali perasaan itu gentayangan di benakku. Gadis manis berselera ningrat. Gembel tetaplah gembel, aku sadar itu. Gembel hanya punya hak untuk mengeluh. Seperti kali ini, aku hanya bisa meluapkan persepsi yang bisa salah atau bener, tergantung persepsi juga yang dibingkai dalam sikap dan perilaku.
Jadi, jika cerita ini terlalu pasaran atau emosional, itu terserah pembaca dalam menilai. Tetap bijak kiranya jika menanggapi sesuatu bukan hanya dengan otak, tapi juga dengan hati.
Aku terperanjat dengan sebuah kabar bahwa hari ini kuliah tidak jadi diadakan, dosen sedang ke luar kota. Akhirnya dengan geram ku tunjukkan kemarahanku sekaligus tak bisa menutupi kegembiraanku. Perasaan yang carut marut, entah karena bayangan ayu wajah kawan lama atau karena kebobrokan duniaku.
Posted at 10:44 pm by Rudi Cahyono
tags
MEKANISASI MEKANIS
Sebelumnya, mungkin lebih enak Anda melakukan hal berikut. Jika Anda punya kesempatan berada di alam terbuka, maka pergilah ke tempat dimana Anda merasa tenang. usahakan Anda sedang sendiri di tempat itu. Tapi sayang sekarang Anda tidak bisa langsung melakukan, karena Anda sedang berdiri membaca tulisan ini. Selanjutnya ambillah posisi dimana Anda merasa relax, baik sambil duduk, berbaring, atu apapun asal posisi tubuh Anda tidak tegang. Pandanglah ke arah tempat atau sesuatu yang jauh dari sentuhan konstruk, misalnya langit, sawah atau alam terbuka sehinga pandangan Anda terasa lepas. Syukur jika Anda orang yang tidak berkaca mata, tapi untuk yang pakai, jangan kecil hati, tetap pakai kaca mata Anda dan usahakan otot mata Anda tetap dalam keadaan relax. Apa yang anda lihat masukkan ke dalam pikiran sebagaimana adanya. jangan menjahili sesuatu yang nyaris alami dengan kosntruk-konstruk. Pikiran relax, tapi jangan sampai ngelantur. Rasakan setiap sensasi pada tubuh anda sebagaimana adanya. bintang bersinar, angin sejuk berhembus, matahari yang cerah dan hangat, serta kicau burung yang merdu. Rasakan semuanya dengan kepasrahan kepada nurani Anda. jika Anda orang yang yakin pada fitrah, maka biarkan persepsi Anda bermain. Anda akan merasakan matahari itu hangat, air atau angin itu sejuk, kicau burung itu merdu. Coba lakukan hal ini sesering mungkin hingga Anda tidak merasa berat melakukannya.
Uraian tersebut yang ternyata lebih mirip sebuah tips adalah usaha secara psikologis untuk melepaskan dari konstruk aktif maupun pasif. Konstruk aktif adalah interaksi (interkognisi maupun interafeksi) merupakan usaha untuk membentuk diri sendiri menjadi apa yang diinginkan diri dan lingkungan. Diri atau self menjadi obyek dari permainan atau konspirasi antara lingkungan dan individu itu sendiri. Dua hal inilah yang membuat orang stress, depresi, cemas dan berbagai gangguan psikologis lainnya, bahkan juga fisiologis. Bekerjanya kognisi dan afeksi pada tensi tinggi, inilah yang menjadikan psikolog menjadi laris. Tapi bukan masalah larisnya, yang menjadi masalah adalah efek individual yang menjadi tanggung jawab kita, bukan hanya sebagai psikolog, tapi yang terpenting sebagai manusia. tapi beruntunglah orang yang masih bisa merasakan kecemasan, depresi atau stress karena fitrah Anda telah menjalankan fungsinya dalam bersentuhan dengan lingkungan.
Kondisi psikis yang seperti ini lebih mudah terdeteksi. dan salah satu dari patologis menjadi ciri sekaligus penyebab dari psikotik. Kebebasan kita telah dirampas dalam sebuah peperangan antara ego individual dan ego sosial. Perhatian dan tenaga kita yang dihabiskan dalam peperangan itu, lagi-lagi dimenangkan oleh konstruk sosial yang menjadikan locus of control internal kita melayani pesanan sosial. Ketakutan kepada kembalinya individu pada dirinya sendiri menyebabkan orang selalu berusaha untuk conform atau lebih parah lagi menjadi budak sosial. Penyesuaian terhadap lingkungan menjadi timpang, dimana akomodasi dan asimilasi tidak lebih dari kata menang kalah. Ketika akomodasi menang, maka orang menjadi penguasa dan cenderung takut kehilangan kekuasaan atas lingkungannya. Usaha dalam mempertahankan equilibrium individual ini juga sama menguras tenaganya dengan ketika kemenangan ada pada pihak asimilasi, dimana kita kembali dikuasai oleh lingkungan. Agar lebih membumi, sebaiknya akan disajikan sebuah realitas konkrit. Ambil saja contoh yang ngetren, misalnya pacaran. Kenapa kita harus pacaran, ternyata tidak diletakkan pada sebuah landasan yang sadar sebagai individu. Nilai yang kita usung untuk pacaran adalah nilai konstruk. Jika keadaannya seperti demikian, saya kira pacaran atau tidak adalah dua pilihan yang sama-sama konyol. Sama-sama punya kerawanan patologis. Solusinya adalah kita harus kembali kepada individuasi (meminjam istilahnya Jung). apa itu individuasi? nanti kita coba jelaskan sedikit.
Sebelumnya kita akan kembali permasalahan kedua yang juga menyebabkan orang mengalami beban psikologis. Sama juga sebenarnya dengan penguasaan diri atas lingkungan, tapi bedanya proses yang terjadi berikut ini adalah proses hegemonik. Secara tidak sadar manusia jadi teralienasi (atau lebih tepatnya mengalienasi diri) dengan menjadi mekanis. Jika orang yang mengalami tekanan psikologis karena ketundukan kepada lingkungan dapat dengan mudah mendeteksi ketimpangan yang terjadi, dalam kasus ini lebih parah subyek tidak merasa bahwa dirinya mengalami penyimpangan. Orang sering terjebak dengan hal yang mekanis, mematikan kreativitas dan rasa empatinya yang notabene adalah fitrah. Orang yang seperti ini lebih sulit sembuh karena bukan cuma tidak sadar akan keadaannya, tapi juga tidak sadar akan kesadarannya. Dapatkah kita rasakan kalau kita sebenarnya sudah terjebak dengan rutinitas, menyia-nyiakan banyak potensi yang kita miliki. Kita tidak lebih hanya dicetak sebagai robot. Terus gimana caranya agar kita merdeka. Lepaskan diri dari konstruk untuk mengarah kepada individuasi. Untuk contoh keadaan yang kedua ini dapat kita rasakan dengan disetirnya kita oleh banyak tugas. Bukan cuma masalah beratnya beban yang kita pikul, tapi efek psikologis yang kita alami. Bukankah kita psikologi? Tentunya harus dipertimbangkan efek psikologis dari sebuah perilaku disamping efek fisiknya. Dari berbagai tugas yang diberikan, rasanya tidak yakin juga kalau tugas itu sudah ditelaah oleh dosen yang memberikan tugas. Kadang tugas itu diberikan dengan pola seperti penjajahan. Seharunya dosen mempunyai empati dalam hal ini. Kalau tidak bisa, ndak usah empati pada beratnya tugas lah. Coba empati pada tugas itu sendiri, apakah sebuah tugas itu relevan. Bukan juga cuma soal manfaat, tapi masalah apakah tugas itu sudah cukup mendapatkan analisa sehingga efek psikologis sudah menjadi salah satu pertimbangan. Tidak semua bab atau sub bab dalam mata kuliah yang seenaknya bisa dijadikan tugas (misalnya bikin makalah). Mungkin ada bagian yang sudah cukup dengan kuliah ceramah atau diskusi.
Sekaranglah waktunya kita lakukan apa itu individuasi. Tidak penting pengertian individuasi, yang penting kita bisa menyadarinya. Kita adalah indiviudu yang punya otoritas atas tubuh dan pikiran kita sendiri. Ini bukannya slogan dari pemberontakan, inilah yang seharusnya menjadi suara dari nurani. Lingkungan hanya referensi, alat atau tawaran. Kita punya hak untuk mentransformasikan, berpikir, bersikap dan mengambil tindakan atas relalitas. Keterikatan hendaknya dibingkai dalam sebuah kesadaran. Karena kuatnya lingkungan, maka empati rasanya sudah waktunya diwujudkan dengan perlawanan. Jika karena alasan yang sama (kuatnya otoritas lingkungan red.), maka salah satu cara bisa dengan memanage diri, misalnya dengan relaksasi di atas. Tapi perlu juga hati-hati, karena relaksasi yang sudah dibentuk itu bisa merupakan konstruk baru. Akhirnya apapun yang Anda pilih, pastikan itu adalah pilihan yang sadar.
Posted at 10:40 pm by Rudi Cahyono
tags
TIPUAN RAGA MENELAN JIWA
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesssia Raya…
Memang benar apa yang tergambar dalam otak Anda bahwa kalimat tersebut adalah penggalan dari lagu kebangsaan kita, apa lagi pada frasa yang terakhir disebutkan Indonesia Raya. Bukan, bukan itu masalahnya, coba kita cermati lagi kata-kata “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya…”. Pada bagian tersebut kita diajak untuk membangun bangsa bukan hanya pada badan, tetapi juga jiwa.
“Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya”. Kalimat ini juga menarik, terutama pada kata “seutuhnya”, kata yang secara maknawi setara dengan bangun jiwa dan raga. Untuk itu akan coba dikaji dua kata itu dalam eksistensi dan esensinya yang berkaitan dengan individu maupun manusia pada umumnya.
Kata jiwa dan raga tentu secara arbitrasi sudah dipercaya telah mengada dengan bertolak dari sebuah konstruksi bahasa (semantik). Jiwa dapat diartikan seluruh kehidupan batin manusia (jadi keseutuhan yang terjadi dari perasaan batin, pikiran, angan-angan dan sebagainya) (Poerwadaarminta,1984). sedangkan berdasarkan apa yang dikatakan Jung sebagai Psyche dapat diartikan totalitas segala peristiwa psikis, baik yang disadari maupun yang tidak disadari (Suryabrata, 2002:156). Di sisi lain, raga dapat diartikan badan (Poerwadarminta, 1984). Badan di sini bukan berarati tubuh mahluk yang menjadi rumah jiwa secara badani, tapi merupakan wadah bagi jiwa universal. Jiwa dan raga bukan komplementasi, juga bukan komponen yang intersubstitutif.
Pengembangan dan perkembangan dari dua unsur entitas tersebut berjalan secara implikatif, entah merupakan bentuk yang motivatif atau rentetan peristiwa kausal (sebab-akibat). Implikatif bukan berarti cuma sekedar interaksi antara jiwa dan badan, tapi juga jiwa-jiwa, jiwa-badan atau badan-badan. Inilah sebuah dinamika yang bisa terjadi dalam struktur kecil individual maupun sosial. Jadi dalam melihat proses pengembangan dan perkembangan ini, kita pandang saja sebagai proses yang berlaku general terhadap jiwa dan badan, baik dalam individual maupun sistem yang melibatkan banyak manusia. Hal ini dikarenakan pada prinsinya setiap pembicaraan mengenai jiwa dan raga selalu melibatkan manusia, baik sebagai subyek pelaku, maupun penderita, baik sebagai sistem individual, maupun dalam sistem sosial.
Dari situ coba kita lihat dalam realita yang cenderung dikotomis dalam memperlakukan perkembangan kedua unsur tersebut sebagai rekayasa yang tendensius. Sebuah proses yang juga berangkat dari background yang dikotomis, seperti Barat dan Timur, rasional dan empiris, statis dan dinamis dan sebagainya.
Latar belakang yang dikotomis tersebut juga akan menyeret kehidupan ke salah satu kutub dengan berbagai pembenaran. Penyeretan itu akan merebut segalanya menjadi milik jiwa atau raga. Ambil satu contoh saja, tradisi empirisme dan rasional yang masing-masing ingin menindas, meniadakan yang lain dan menimpanya dengan salah satu unsur, jiwa atau raga. Empirisme menolak jiwa dan lebih mengakui kebenaran yang dibangun dari pengamatan realita. Di kutub yang lain, yaitu rasionalisme, lebih ingin menutup dunia dengan rasio, menenggelamkan dalam jiwa.
Permasalahan ternyata bukan pada dikotominya, tapi pada keadaan ketika dikotomisasi tersebut diikuti gerakan pelenyapan salah satu sisi. Organ tanpa kualitas jiwa akan menjadi kosong, wadah tanpa isi. Begitu juga jiwa tanpa raga tidak akan bisa jalan dan mengaktual. Kalau kita paham fenomena ini, terus kenapa kita masih terjebak kegiatan-kegiatan yang elementaristik ? Tapi itu tetap merupakan hak untuk memilih. Perlu kita pertanyakan apakah kecantikan raga diimbangi dengan keelokan jiwa. Mungkin tanpa sadar kita telah terseret ke dalam salah satu kutub, atau mungkin dengan kesadaran menyeret ke salah satu kutub (yang lain).
Dengan kedok positif thinking, ternyata kita terseret kepada salah satu jiwa atau raga. Positif thinking bisa juga hanya manipulasi-konstruksi agar kita bisa terhipnotis dan merasa jiwa dan raga, infrastruktur dan suprastruktur sudah seimbang. Dari situ, pertanyaan yang lantas timbul adalah, apakah kemegahan kampus Pskologi secara raga diikuti dengan pengembangan jiwanya. Mari kita tilik lagi. Jangan sampai pikiran kita disosialisasi atau bahkan diinternalisasi (secara tak sadar) oleh teori indeks yang mengukur keberhasilan dari standar materi yang sama sekali tidak representataif.
Dalam usaha pembaharuan infrastruktur fisik memang diikuti dengan pemanfaatan fasilitas dengan berbagai aktivitas peningkatan kualitas. Setidak-tidaknya ada uasha penempaan fisik dan mental. Mengapa saya katakan demikian? Bagaimana tidak, jika berdirinya lab diikuti dengan banyak pemanfaatannya, walaupun masih pragmatis. Di sisi lain juga suprastruktur mulai banyak ditambal disana-sini, meski tabalannya kadang-kadang juga dedel kembali.
Terus apakah peningakatan kedua komponen itu sudah sampai pada substansinya? Ternyata dandanan itu tidak menyentuh sisi jiwa yang lain secantik raganya. Mahasiswa masih dikondisikan dalam rimba mekanistis-pragmatis.
Berbagai atribut pembelajaran masih belum menyentuh akar permasalahan, malah terjebak pada sebuah gerakan robotisasi, sekedar onggokan yang tidak mampu didayagunakan. Memang instrumen-instrumen tersebut merupakan bentuk geliat kemauan untuk menggugat, tapi malah yang lebih dikhawatirkan adalah instrumen menjadi bumerang mekanisasi.
Kejenuhan dan kegilaan dalam mengeruk kapital oleh penguasa yang punya tangan-tangan kuat untuk mengendalikan sisitem sering membuat kita terlena, tenggelam dalam konstruksi yang dibangunnya. Adalah sebuah reaksi timbal balik, dimana sisitem yang dibangun, meskipun merugiakn, tapi sangat didukung, bahkan oleh subyek penderita (sebuah upaya obyektivikasi).
Tulisan ini adalah tawaran kalau tidak disikapi sebagai ajakan, untuk menjadi sadar akan realita yang mencekoki kita dengan materi agar daya nalar dan kekritisan kita mati. Kesadaran bukan cuma ingin menang sendiri. Kita dari pihak bawah (baca mahasiswa) juga punya banyak kesalahan atau sebut saja kebodohan. Selain mendukung akan adanya pembodohan diri, kita juga cenderung ingin enaknya, kuliah hanya datang, duduk, diam dan pulang, skripsi terus lulus.
Teringat juga dengan apa yang dikatakan seorang dosen sosial, kita mahasiswa psikologi, tanpa beli buku-buku psikologi pun bisa lulus dengan nilai A. Lalu apa tanggung jawab dari nilai A tersebut? Sayang kalau kuliah sekian lama, kita hanya mendapat label dan kertas-kertas sertifikat tanpa makna.
Bagaimana selanjutnya, juga menuntut adanya pematangan jiwa dan raga. Tinggal apakah kita akan menjadi manusia hewan, manusia robot atau menjadi manusia seutuhnya. Jika memang demikian mari kita mulai perjuangan untuk memilih, berpikir dan bertindak. Mari kita wujudkan cita-cita bangsa untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya [ ]
Posted at 10:30 pm by Rudi Cahyono
tags
Cinta Cinta Lagi!!! pfiuh...
Pecinta yang Bercinta
uncak dari mencinta adalah bercinta. Hanya saja mereka punya tempat dan waktu yang berbeda. Bercinta terjadi pada suatu waktu dan di tempat tertentu, sedang mencinta mengembara di semua tempat, bergulir di setiap waktu. Sepasang suami istri terkadang bercinta di ranjang dan dilakukan malam hari. Mencinta bisa dilakukan di ranjang, di tempat ibadah, di gedung bioskop. Mencinta bisa dirasakan di waktu pagi, siang, sore, atau petang.
Pada dua hal ini, selera orang juga berbeda. Sebagian orang lebih suka bercinta, tapi tidak mencinta, tapi sebagian yang lain lebih memilih mencinta daripada sekedar bercinta. Meskipun banyak juga orang yang bercinta dengan mencinta atau mencinta dengan bercinta. Keduanya hampir susah dibedakan. Bercinta dengan mencinta berarti menyertakan pemeberian cinta pada saat bercinta, sedangkan mencinta dengan bercinta berarti ada kebutuhan bercinta untuk bisa menyerahkan cinta. Bercinta dan mencinta ada di waktu dan tempatnya, tetapi tidak terpisah. Tak terpisah bukan berarti menyatu. Mereka hanya saling melengkapi.
Penyatuan antara bercinta dan mencinta terjadi ketika memberi dan menerima terjadi bersamaan, ada atau tidak ada yang diberi atau yang menerima. Mencinta biasanya diwujudkan dengan impian untuk selalu berdekatan, ingin bermesraan ketika berduaan, ingin mencurahkan kasih jika terjadi pertemuan. Bayangan yang dicinta selalu hadir, setiap saat ingin bersama, itulah mencinta. Sembol-simbol ini akan bermakna ketika kita melakukannya dengan bercinta. Bukan bercinta seperti sepasang pria wanita yang sedang bersetubuh, tapi bercinta setiap saat dengan representasi apapun. Ketika bayangannya datang, maka dengan bayangan itulah kita bercinta. Jadi bayangan sang kekasih bukan sekedar simbol untuk mencinta. Jika suaranya terngiang, maka dengan suara itu kita bercinta, bukan sekedar theme song yang mendatangkan bahagian tatkala di putar di telinga. Ketika mencium wanginya, maka dengan bau itu kita bercinta, bukan deodorant yang membuat kita ilfil karena ingat bau keteknya. Bila semua itu membuat kita bercinta, maka coba bayangkan ketika kita sedang bersenggama. Hanya sentuhan fisik, penetrasi dan kuluman bibir yang membedakannya.
Bagaimana setiap saat kita bisa menjadi pecinta yang selalu bercinta? Maka apresiasilah senjatanya. Seorang wanita yang memuja pria dambaan, maka apapun yang terpancar darinya adalah keanggunan, setiap katanya bijaksana, segala dandanannya bak pangeran di singgasana. Tak perduli tubuh berbau amis, penampilan bagai pengemis, kata orang amis-amis (amit-amit maksudnya). Semua bukan kenyataan terbalik, bukan rasionalisasi, semua nyata. Jika mencinta dan bercinta hanya seperti stiker dan kertas perekatnya, maka cinta memang benar-benar buta. Jika keduanya terpisah, maka cinta telah menulikan telinga. Seorang pecinta yang selalu bercinta tidak menjadi buta. Ia memejamkan mata menikmati alunan, menghayati rabaan. Seorang pecinta yang selalu bercinta bukan sedang pekak. Ia sengaja menutup kuping untuk membiarkan alunan cinta bertalu di gendang telinga.
Apresiasi tidak menjadikan pecinta menunda bercinta. Dengan apresiasi sang pecinta bisa merasakan nikmat setiap saat. Keindahan bercinta selalu hadir bagi pecinta yang apresiatif. Pecinta apresiatif telah menjiwai dirinya sebagai pecinta, telah menghayati cintanya, begitu menyanjung yang dicintainya. Semua dilakukan bukan karena ingin mendapatkan balasan, bukan karena imbalan. Hanya ada satu jawaban buat pecinta apresiatif, yaitu mencintai cinta, bercinta dengan cinta. Sekali lagi, bagaimana caranya menjadi pecinta yang selalu bercinta? Cintailah apresiasi dan apresiasilah cinta.
Posted at 12:09 pm by Rudi Cahyono
tags
Cina cinta Lagi!!! pfiuh...
Menjadi berharga adalah belajar menghargai. Setiap
penghargaan meningkatkan harga. Demikianlah, menjadi apresiatif adalah menjadi
pecinta yang haus akan cinta. Setiap saat ingin bertemu, karena ingin segera
meluapkan rasa rindu. Setiap saat menghadirkan bayangan, ingin berjumpa. Setiap
sentuhan adalah rasa yang tercurah untuk sang kekasih.
Mencintai berarti menyerap cinta. Cinta tak akan
habis jika diberi. Cinta akan selalu hadir setiap kita menghargai. Seperti
pecinta energi terserap dari yang dicinta untuk menjadi lemah tapi perkasa,
rapuh tapi tegar. Mencinta berarti mengungkap rasa. Setiap mencinta maka diri
menjadi kuat, setiap organ menjadi dialiri energi. Tapi pada saat bersamaan
diri tak kan melihat dengan ”mata kiri”, tak kan kuasa menghina, tak kan suka
mencela. Cinta menghapus semua. Ia menghadirkan keanggunan, mendatangkan
keagungan. Setiap penghargaan diberikan atas nama cinta. Pecinta yang selalu
ingin bercinta. Pecinta yang selalu ingin memberi harga. Karena dengan itu ia
tetap menjadi sang pecinta, menjadi yang bergarga.
Seperti tumbuhan yang terus bergerak ke arah
kehidupan, ke arah kekuatan. Ketika benih tertimbun dalam tanah, bukan keluhan
akan kegelapan yang ia rasakan, tapi sejuknya tanah dan energi dari unsur hara.
ia menyatu dengan tempatnya berada, merasakan sebagai bagian yang menghidupkan.
benih terus tumbuh menguak tanah, menembus menuju kepapada energi yang
dibutuhkannya. kesetiaan tumbuhan kepada segala yang memberi hidup sebenarnya
adalah cinta. ia bergeak menuju apa yang dicintai, yaitu energi.
Dengan AI akan kita
tumbuhkan cinta, dengan AI kita akan mencinta, dengan AI kita akan menerima
cinta.
Posted at 12:07 pm by Rudi Cahyono
tags
Cinta Cinta Lagi!!! pfiuh
Bercinta Ala Pecinta
“Di sini
gelap..”, mataku melihat sekeliling. Sejurus ia mengalah, ”Wow, udaranya
sejuk!”, kulitku tak mau kalah. Pori-poriku jadi melebar. Aku rasakan setiap
tetes cairan menelusup, membuat ubun-ubunku dingin. Kepalaku seperti mengembang.
Ada sesuatu yang mendorong di ujung kepalaku. Aku tumbuh, aku membesar, aku
berubah jadi kekar, aku bertambah lebih tegar.
Ku kuak tanah yang memungkinkanku membayangkan siang.
Jendela terbuka dan ku sadar akan cahaya. Aku tengok kembali tempatku berpijak
tatkala malam. Tanah gelap yang mungkinkan ku rasakan nikmatnya terang.
Menatap masa
depan berbekal kenangan. Silau menuntunku pada tatap energi harapan. Kembali
pori-poriku terbuka. Ku rasakan tiap sentuhan lembut mengalir tanpa luka.
Kekuatan alam melesat terarah, menuju pusara diri. Setiap degupnya menyuarakan
rasa. Di sini, dalam hati.
Kini mulai ku rasakan yang berbeda. Cinta yang
diterjemahkan dalam bahasa remaja. Setiap ku tatap ronanya hatiku berbunga. Setiap
ku dengar suaranya tak henti mendamba. Setiap ku sentuh kulitnya dadaku
meronta. Rasaku berkelana dalam cintamu. Pujaku menggilas benci pada sisi yang
sama. Semua terbawa pada satu gairah, cinta, cinta, dan cinta.
Aku jatuh cinta
apa yang aku lihat, apa yang aku dengar, apa yang aku cium, apa yang aku rasa,
apa yang aku kecap. Segala yang menerpa kuserap dengan rasa cinta. Semua yang
menyapa ku sambut dengan penuh kasih. Cintaku setia, seperti manusia mencintai
sesama, manusia mencintai keluarga, manusia mencintai kekasih, dan manusia mencintaiTuhannya.
Air menghapus dahaga, memberi energi, tanah menyuapi dengan hara. Namun cintaku
menggerakkanku ke sana, ke arah surya. Cinta yang setia menuntunku untuk selalu
bercengkerama, cinta yang setia membimbingku untuk selalu bersenggama, cinta yang
setia menggiringku jatuh di pelukannya. Oh, suryaku, kekasihku, cintaku.
Demikianlah, aku menggunakan tangan untuk
bercinta, kaki mengejar sang dicinta, mata nyalang menerjang setiap bayang
kasih. Setiap diri dipenuhi cinta, bergerak dengan cinta, menyambut dengan
cinta, berbagi cinta, memberi cinta, mencintai pecinta, setia pada yang
dicinta.
~ The Plant ~
Posted at 12:00 pm by Rudi Cahyono
tags
Saturday, September 29, 2007
berawal dari cengkerama obrolan ngalor ngidul, muncul pertanyaan dari seorang teman, sebut saja sherly (nama sebenarnya).
Sherly: Mas, kalo kamu suka sama orang, apakah sayangmu diberikan semuanya?
Aku: kalo pertanyaannya suka, ya yang aku berikan adalah sukaku semuanya. Tapi kalo pertanyaannya sayang, maka aku berikan sayangku semuanya.
Sherly: Mas ga takut sakit?
Aku: sakit?
Sherly: maksudnya sakit hati
Aku: kenapa harus takut? Kalo ga mau sakit hati, emang iya lah. Siapa sih orang yang mo sakit hati. Tapi kalo takut, ya buat apalah. Toh emang hidup kalo ga ketawa ya menangis, kalo ga senang ya sedih. Tapi bukan berarti dikotomis seperti itu sih.
Sherly: lha terus?
Aku: ya ada kalanya emang kudu menikmati kesedihan, atau menangisi kebahagiaan. Semuanya jg tergantung makna yang dilekatkan
Sherly: bisa seprti itu ya Mas? Trus soal sakit hati tadi, Mas pernah ngalami?
Aku: sering
Sherly: oh ya?!
Aku: mangkannya itu, aku udah terbiasa kali ya. Ada perubahan dari menganggap sakit hati sebagai penderitaan hingga menjadi sakit hati sebagai bagian dari hidup, seni menjalaninya.
Sherly: Mas berani juga ya?!
Aku: berani? hehehehe... bukan gitu. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Jika km memilih A maka B, C, D merupakan lingkup yang mempengaruhi ketika pilihan disajikan. Tetapi ketika keputusan diambil, maka yg lain tidak lebih dari bunga2nya. Jalani aja pilihanmu, toh km jg ga akan bisa membandingkan dengan pilihan yang lain yg sudah terabaikan.
Sherly: tapi kok masih banyak orang yg menyesali pilihan ya Mas?
Aku: itulah arti dari konsistensi pilihan dan konsekuensinya. Sebernya mereka rugi, karena hanya bisa membandingkan dengan rekaannya, bukan senyatanya. Mereka hanya membandingkan pilihannya (misalnya A) dengan B', C', D' dll yang hanya rekaan, bukan B, C, D dst yang sesungguhnya. Rugi kan?!
Sherly: iya jg ya Mas. Trus kalo milih cewe neh ya Mas. Kalo tiba2 ada yg lebih cantik gitu gimana dg pilihan kita?
Aku: itu lah pilihan, ttp ada konsekuensinya. Hanya saja, apakah kita bisa konsisten dengan itu. Kalo kita memilih sesuatu yang lebih, terus gimana sesuatu yang kurang. Sedangkan semuanya ada kelebihan dan kekurangannya masing2. Bisa jadi kita mengingkari seseorang karena kekurangannya dan kita memilih sso yg menurut kita lebih. Gimana perasaan kita jika ternyata orang yg kita anggap lebih itu jg lebih memilih orang lain yg dianggap lebih? Kesenangan atau kebahagiaan itu bisa dibangun, diciptakan, toh dialog terciptanya kebahagiaan jg bisa dibentuk dari diri kita sebagai pusat, meskipun lingkungan jg berpengaruh. Tapi paling tidak naluriah kita yg egosentris ttp memegang peranan. Jadi kebahagiaan atau kesenangan kita ttp ada pada diri kita, tergantung bagaimana kita memaknai sst
Sherly: ok deach Mas. Lain kali disambung ya?!
Ake: Ok
Posted at 02:17 pm by Rudi Cahyono
tags
Sunday, August 12, 2007
Pelangiku Sherina
Titik - titik hujan, masih membasahi Kala kau menyapa, pelangiku Ingin kuberlari, jumpa bidadari Bawalah aku pergi, bersamamu Bisikkan kisah yang lucu Nyanyikanlah lagu merdumu Merah, kuning, jingga dan ungu Sentuhkan warnamu dalam gaunku
Ingin ku menari Hingga kau sembunyi Rindu pelangiku, datang lagi
Posted at 03:48 pm by Rudi Cahyono
tags
Sebelum Kau Terlelap
Dewa 19
Adinda Dengarkanlah satu Tutur kataku Sebelum kau terlelap Kuharap kau Lepaskan sejenak Riak lakunya Sebelum kau terlelap
Lagu ini Elus hati Timang segala sedihmu Sebagai satu Redam perih Sebagai sampul diriku
Adinda sayang Jangan kau relakan Dirinya berdiri Disegala langkahmu Lepaskan Pasung setiamu Wejangan ini untuk sebelum kau terlelap
Yang kau sayang Slalu saja Terbitkan erammu Diperihnya hatimu Pejamkan matamu Sandarkan bebanmu Masih ada yang lain Sebelum kau terlelap
Pejamkan matamu Sandarkan bebanmu Masih ada yang lain Masih ada yang lain Yang lain...
Posted at 03:34 pm by Rudi Cahyono
tags
Friday, May 18, 2007
Thomasku
aya adalah seorang dosen senior di Outhlubricant University, sebuah universitas kecil di negara bagian New Rock, Haramica. Nama saya Louis Leopold. Saya mengajar Fakultas Teknik. Saya diakui senior bukan karena saya tua dan menua di universitas. Selain memang saya ikut mendirikan perguruan tinggi kesayangan saya ini, saya juga orang paling progresif dalam memajukan PT yang sekarang dipimpin sahabat saya, seorang musuh dalam selimut yang selalu menemaniku tidur dengan cerita-ceritanya. Sedangkan saya masih menjadi dosen biasa tanpa jabatan apapun. Hanya saja saya memang dosen yang kharismatik. Setiap mahasiswi baru yang muda belia kenal dengan saya. Mereka selalu say hello ketika ketemu saya.
Keterlibatan saya dalam mendirikan universitas ini sangat besar. Saya ikut mengangkat batu, memanggul semen, mengaduk adonan pasir, menata batu bata. Dan saya tidak akan pernah melupakan jasa dari teman-teman seprofesi saya dalam mendirikan bangunan gedung yang cukup megah di hati saya ini. Mereka adalah pekerja keras yang tak kenal lelah. Bahkan mereka rela lembur untuk menepati deathline yang tak jarang ditetapkan secara mendadak. Karena bagi kita 1 hari mempunyai 24 jam, satu jam mengandung 60 menit, 1 menit memiliki 60 detik. Kita bisa menggunakan satuan apapun saat bekerja, asal kita tidak merasa tertekan dengan waktu yang menemani kita hidup. Paling tidak itu hanya bagian kecil dari kenangan manis saya pertama kali mendirikan gedung kampus ini.
Sebagai dosen yang progresif, kenangan manis selalu saya rasakan. Belum genap satu tahun meniti karier, saya sudah diberikan kepercayaan untuk ikut berpartisipasi dalam sebuah projek besar. Ini hal yang membanggakan karena tidak semua dosen mendapatkan kesempatan yang sama. Beberapa dosen yang tidak memiliki kemampuan seperti saya dengan halus menolak pekerjaan yang mulia ini. Bahkan mereka sampai berjalan seperti pebalet saat pamitan sebelum jam resmi pulang untuk saya dapat saya nikmati.
Hal yang menyenangkan sebagai calon dosen tersohor adalah punya keluarga yang mengenal saya di kampus. Mereka adalah cikal bakal kekuatan untuk saya bisa dikenal lebih jauh. Rasa terimakasih saya pada mereka yang bekerja siang malam di kampus ini sehingga setiap hari bisa ketemu saya. Karena itu saya punya teman kalau pas kepayahan di malam hari. Keakraban yang terkondisi inilah yang membuat saya merasa punya keluarga di sini. Kehidupan pada saat melepas lelah adalah impian setiap anggota keluarga. Bercengkerama, saling berkeluh kesah, bercanda sampai perut kaku karena kebanyakan tertawa adalah momen-momen tak terlupakan.
Rasa syukur juga selalu terucap kalau saya teringat dengan mahasiswa yang tak kenal lelah membantu pekerjaan saya. Mereka adalah orang-orang jujur dan lugu dalam melakukan pekerjaannya. Mereka orang yang cerdas, meskipun tidak salalu menjadi pintar di setiap saat. Pelukan bagi mereka adalah kehangatan untuk timbulnya rasa memiliki bersama kampus tercinta. Pujian yang tulus membuat gairah selalu terpancar dan mengorbit di antara kita, dosen dan mahasiswa.
Di sisi lain, mahasiswa yang radikal dengan pemikiran dan perasaannya yang meluap setiap saat menjadikan saya selalu sadar bahwa saya adalah manusia, karena hal dasar yang melekat pada diri saya bukanlah seorang dosen, tapi seorang manusia, sama seperti mereka. Pemberontakan yang setiap saat mereka lakukan membuat saya bergairah karena setiap konflik yang menghadapkan saya dengan mereka adalah sebuah kesempatan untuk lebih sering memeluk mereka. Kehangatan akan tercipta dari suasana yang panas, sama juga ketika kesejukan terpacar dari sikap yang dingin. Terimakasih buat mahasiswaku yang pendiam, pemalu, ceria, bersemangat, radikal, pemberontak. Kalian adalah sumber inspirasi.
Hal yang paling "mengesalkan" adalah ketika saya punya seorang mahasiswa kesayangan yang sangat hebat. Namanya Thomas. Bukan hanya buah pikirannya yang inovatif, tapi juga bagaimana ia merasakan lingkungan di sekitarnya. Ia punya sense yang kuat dalam merasakan setiap niat dari lingkungan sekitarnya. Setiap ketulusan saya, selalu diartikan dengan caranya, sebuah apresiasi yang tak biasa. Ketika saya mengajarkan bagaimana membuka mata, maka Thomas sudah membayangkan bagaimana menciptakan teropong yang tembus pandang sampai ratusan mil. Tatkala saya mengajarkan bagaimana menyerap udara, ia sudah melompat dan mengatakan saya menemukan formulasi udara alternatif untuk bernafas selain O2. Bahkan ketika saya kesulitan memanggil-manggil dia karena keinginan saya untuk selalu menyapa, ia besoknya membawakan saya sebuah alat komunikasi nirkabel dengan berbagai variasi bentuk, mulai dari kaca mata, lensa kontak, atau yang ditanamkan di gigi.
Saya dan mahasiswa saya yang satu ini sering ketemu di sebuah seminar. Tak jarang kami berdua jadi pembicara di forum yang sama. Kita sering berdebat dengan landasan pemikiran yang sangat kuat. Hal yang membanggakan ketika saya sadar bahwa pemikiran saya yang saya ajarkan ke dia sudah dia kembangkan dengan lebih hebat. Mahasiswa saya yang luar biasa. Pada perkembangannya, pertemuan dengan dia selalu membuat saya mengalirkan keringat dingin, untung tidak sampai beku. Kehangatan yang diberikan oleh mahasiswa saya ini membuat kebekuan menjadi kesejukan.
Jika saya ketemu dengannya dalam sebuah kuliah, saya menjadi merasa kuliah menjadi lebih mudah. Dengan kepintarannya, anak itu membantu saya mengajari yang lain, bahkan saya banyak mendapatkan masukan bukan hanya pada isi materi, tapi juga bagaimana menyampaikannya. Thomas selalu membantu saya menyampaikan materi saya terkadang sulit buat saya. Thomas adalah penyambung lidah kuliah. Tak jarang ia menggunakan permainan untuk menggambarkan strukut atom dan chaos, membuat simulasi fraktal yang sangat mengesankan.
Belakangan ini saya sudah jarang ketemu mahasiswa saya yang dulu. Hampir semua yang ikut kuliah saya adalah wajah baru. Namun saya masih bisa merasakan semangat yang sama, berkobar di antara mereka. Semangat untuk saling mengingatkan, saling memberikan masukan dan menemukan serta mengembangkan ilmu-ilmu baru bersama. Bahkan mereka jauh lebih radikal. Bahkan ada sekelompok mahasiswa yang saya cintai membungkam idealisme saya dengan hedonisme yang eksotis. Mengajari pragmatisme yang fungsional, humanisme yang insaniah, dan spiritualisme yang berketuhanan.
Waktu terus berjalan dengan suguhan pengalaman yang indah dan tak terlupakan. Saya belakangan lebih suka menikmati keadaan tubuh saya yang mengingatkan pada Tuhan. Ternyata keadaan ini tidak cuma mendekatkan saya dengan Tuhan, tapi juga dengan mahasiswa-mahasiswi saya. Mereka berdatangan untuk meminta kuliah di ranjang saya. Semangat saya selalu timbul sampai saya lupa bahwa hari ini adalah nafas terakhir buat saya. Hampir semua mahasiswa berdatangan silih berganti, dari yang sudah seperti keluarga, teman, sampai yang tak tahu namanya sama sekali. Mereka datang untuk tetap mendengarkan kuliah-kuliah saya. Mereka menganggap semua yang saya bicarakan adalah kuliah, dan memang demikian. Saya membahas tentang persahabatan dengan mereka, mencoba menemukan makna hidup, saling membantu untuk meraaskan nikmatnya kesempatan bernafas, bahkan seorang mahasiswi datang hanya untuk mempersembahkan sebuah puisi yang indah:
hidupku tak luput dari tempat berpijak
bukan meninggalkan jejak
mutiara indah tak buatku beranjak
hanya jarak yang jadikan gairah memuncak
mentariku tlah pergi
aku setia tuk menanti
hati riang dari bayang-bayang
tangan kaki kuat karena ingatan membentang
matahariku telah tiba
hatiku kembali bersuka
semangat tersisa tak terputus masa
karena setiap kata tak pernah musnah
cinta membawaku pada diriku
cinta mengantarku menjadi diriku
aku dituntun oleh hayalanku
dipandu oleh kekuatanku
aku hidup
menghidupkan
tetap hidup
mengambil bagian kehidupan
Suatu ketika di detik-detik akhir yang mengawali kehidupan saya, saya teringat pada Thomas. Ingatan saya padanya membuat pengharapan yang semakin kuat. "Dia tidak akan datang. Mungkin dia sudah lupa. Lagian dia sudah menjadi orang terkenal. Lebih baik engkau pikirkan keadaanmu!" Nasihat seorang rekan. Bagus juga, tapi bagi saya keadaan saya sudah tidak terpikirkan lagi, tapi saya jalani. Keyakinan saya akan kehadiran Thomas semakin kuat. Setiap pikiran dan rasa saya memberikan kekuatan bagi perjalanannya menuju kepada saya.
Hari ini adalah hari terakhir. Saya hanya tahu hari, tapi tidak tahu di jam ke berapa, menit keberapa, atau detik keberapa saya akan mengawali akhir saya. Bergulirnya waktu tak menyurutkan harapanku akan hadirnya Thomas. Ternyata keyakinan menghubungkan saya pada semua kebetulan. Koran pagi ini berada di samping pembaringan. "Saya menemukannya!" teriak saya. Semua orang-orang di sekeliling ranjang tertuju pada saya.
"Po, ada tamu istimewa buatmu" suara wanita yang tak asing bagiku menggema di kamar yang menua dalam keremajaan. Seorang prian berjas melangkah agak cepat mendahuliu Nadya, istriku.
"Thomas!" sapaku kalem. Senyumku dibalas pelukan oleh Thomas. Koran yang masih di tangan saya menempel di punggung Thomas. Saya tidak ingin cepat-cepat melepaskan pelukan Thomas. Sampai saya rasakan dunia gelap dan saya tak sempat merasakan pengganti O2 yang nantinya akan diciptakan oleh Thomas.
Pertanyaan: Apakah dosen tersebut adalah salah satu dari kita? Jika tidak, mudah-mudahan menjadi guru dan murid sepanjang masa adalah salah satu cita-cita kita.
Posted at 03:54 am by Rudi Cahyono
tags
|
 |
|
|
 |
 |
i'm a man who looking for something which make me exist on the world
|
 |
|
|