Alkisah
datanglah sebuah kesempatan yang menuntun saya pergi ke kota bagian timur dari
Jawa, Jember. Tugas dari kampus membuat saya mencicipi untuk kali kedua ke kota
kecil yang luas tersebut. Kali kedua, karena seminggu sebelumnya saya juga
mendatanginya untuk urusan penggalian data sehubungan dengan kegiatan seminar
pada kali kedua saya ke jember.
Kesempatan
santai di sela jam istirahat untuk makan dan sholat Jumat, saya bertemu dengan
seorang teman yang mempertaruhkan dirinya untuk menjadi pendidik di sebuah
universitas yang memfokuskan diri pada dunia kependidikan. Dia adalah seorang
dosen baru di sana.
Kebetulan
teman saya ini lulusan dari perguruan tinggi yang sama dimana ia sekarang
mendedikasikan sebagian hidupnya, kalu tidak disebut memberikan seluruh
hatinya. Karena satu sebab ini, sedikit banyak ia mengenal dalemannya fakultas
beserta orang-orang yang lebih lama menghuni tempat itu.
Singkat kata
(bergaya SBY), ia curhat sehubungan dengan betapa kenalnya ia dengan kampus
tercintanya. Perlu dijadikan landasan pengetahuan terlebih dahulu, teman saya
ini merupakan orang yang supel, ramah, banyak teman, sopan, suka humor,
bercanda dan ekspresif. Untuk ciri yang terakhir ini ia memulai curahan
hatinya. Saking ekspresifnya, sampai-sampai ketulusan hatinya terbahasakan
dalam gerak tubuh yang lincah mengikuti perasaannya yang terkadang
meledak-ledak. Letupan-letupan dahsyat tersebut menunjukkan keenceran otaknya
yang terus mengalir, mencipta, berkreasi, memodifikasi dan mengasosiasi.
Kekuatan yang
seharusnya menjadi kebanggaan ini justru menjadi topik curhat dengan tema
keluahan. Sebagai dosen baru, ia berusaha mengerem inisiatifnya untuk tidak
terlalu berani banyak berinisiatif, mencoba-coba, atau mencari gara-gara. Lebih
amannya ia mengambil langkah pasif-reaktif dalam bekerja dan bekerja sama
dengan rekan muda dan tua di kampusnya.
Namanya juga
anak muda, sesekali ia juga kelepasan dengan otak bocornya. Seperti yang pernah
dikatakan Romi Rafael (Master Hipnotis), bahwa bahasa yang tidak bisa menipu
adalah bahasa tubuh. Tidak jarang gestur dan ekspresinya menggambarkan
keceriaan yang menjadi indikator kecerdasannya. Untuk satu ekspresi ia harus
membayarnya dengan mahal. Pembimbing tugas akhirnya pernah berkata bahwa ia
kekanak-kanakan, meski sang pembimbing tau ada kedewasaan di dalam dirinya.
Tapi bagian perkataan “kedewasaan” lebih menjadi basa-basi, karena sarang dan judgement yang paling kuat adalah pada,
“Jangan selengekan!”. Hal yang sudah lama ia sadari ini mengingatkan kembali
bahwa ia haru hati-hati bersikap. Pengalaman ini menjadi lebih reliable ketika
seorang dosen senior mengatakan bahwa ia mbegeges
dengan kata-kata, “Koe iku wis dosen, ojok mbegeges wae!”. Pengalaman kedua
membuat ia menjadi lebih tidak enak lagi, sehingga ia terpaksa harus ambil aksi
diam untuk beberapa hari. Alasannya tentu saja karena ia tidak ingin bertindak
salah. Image bahwa ia petakilan
(setidaknya bagi dosen tua) sudah lama tertaman, sampai suatu ketika gerak
matanya yang aktif berpikir dipandang sebagai tidak memandang (tidak
menghargai) orang yang sedang berbicara.
Suatu ketika
terbukalah satu tabir lagi. Teman dekatnya yang juga dosen ternyata selama ini
juga memandangnya sebagai orang yang cengengesan. Teman yang biasanya
bercengkerama, bermain, guyonan, mempunyai pendapat yang sama dengan para dosen
tua. Sepertinya si teman ini mengemban misi suci pesan dari dosen tua untuk
membawa teman saya kembali ke “jalan yang benar”.
Temanku hanya
bisa bilang, “Saya ini belajar juga dengan tubuh. Setiap molekul dalam tubuh
saya belajar jauh lebih aktif ketika saya bergerak. Saya juga bertipe somatik.
Saya salah satu dari sekian banyak yang dianggap gila hanya karena memberikan
hak pada tubuh untuk bergerak dan belajar”. Ia mengatakan ini karena ia yakin
bahwa temannya itu akan lebih ngerti mengingat mereka berasal dari universita
yang bergerak di bidang kependidikan yang seharusnya tuntas dalam mempelajari
soal Learning.
Pengalaman
ini menunjukkan kepada kita bahwa norma yang disepakati kadang lebih kejam dari
pada hukum yang menguasai hajat hidup manusia. Pandangan (mindset) juga menjadi saudara tiri yang tidak kalah kejamnya dalam
menjustifikasi orang. Norma yang lebih berpihak pada tradisi yang dianggap
sopan tidak mengakomodir hak untuk sekedar tersenyum, memekarkan otak dan
menjadi lebih cerdas.
Norma tidak
jarang hanya menempat eksistensi dengan tidak memuat esensi. Orang sudah lupa
fungsi dan dengan manfaat apa norma dijalankan. Keterikatan pada cara dengan
melupakan tujuan membuat jalan tak berarah. Senjata akhir untuk sebuah alasan
tidak lebih dari jawaban, “Pokoknya itu, harus begitu!”. Bahkan ukurannya
menjadi alasan untuk menanamkan suka atau tidak suka.
Lalu, esensi
apa yang dikosongkan dari wadahnya? Pemahaman akan perbedaan. Pandangan saya
yang sudah lama dipersenjatai dengan rasionalisasi individual differences, lebih setuju jika kita meninjau kembali
justifikasi yang sudah tidak punya alasan relevan tersebut. Apa yang diucapkan
oleh teman saya merupakan siksaan yang ia alami. Coba bayangkan jika deng
menahan tersenyum dan menggerakkan tubuh sesuai kata hati, seseorang harus
mengorbankan pengembangan myelin, mempercepat pemunahan neuron dan penyusutan
otak. Molekul-molekul yang senantiasa menuntut haknya untuk ikut serta dalam
pembelajaran tubuh menjadi bisu, kelu dan membeku.
Tempat
belajar temanku yang bergeak di bidang kependidikan tersebut seharusnya
mewadahi kebebasan gerak temanku dengan alasan sedikit pengetahuan tentang
modalitas belajar SAVI (somatic, auditory, visual dan intelectual). Sepertinya
keluhan teman saya ini juga sebagai bentuk perlindungan dari kebiasaan lama
yang melarang siswa untuk berjalan-jalan, melompat, berbicara, tertawa. Tentu
kita masih ingat ketika kita tidak boleh berisik atau membuat gaduh pada waktu
TK atau SD dulu. Atau ketika pulang dengan mematung (anteng-antengan), siapa yang diam pulang lebih dulu. Ini merupakan
warisan politis dalam membelenggu kita untuk tidak menjadi lebih pintar.
Sekarang coba
bayangkan jika dosen muda tersebut adalah Anda. Apakah Anda akan menjadikan
diri Anda bodoh sedikit demi sedikit? Sekarang berpindahlah tempat dan lihatlah
diri Anda di tempat yang lama tadi. Bayangkan jika yang Anda lihat adalah anak
Anda. Apakah Anda juga akan membiarkan anak Anda batal untuk menjadi lebih cerdas?
Sekarang naiklah ke meja atau kursi yang ada di dekat Anda (hanya jika Anda
tidak mengharamkan tindakan tersebut). Lihatlah diri Anda yang pertama.
Bayangkan bahwa Anda sebagai orang tuanya sekarang juga merupakan dosen senior
dari Anak Anda. Apa yang akan Anda lakukan terhadapnya?