KEKUATAN ORKESTRASI
Hari ini, tanggal 3 Februari 2008, Grup Band Nidji ulang tahun yang ke-6. Sebuah
perayaan diadakan oleh RCTI dengan mendatangkan beberapa band papan atas.
Menghadirkan grup band papan atas? Tidak, sebagian yang datang adalah para
vokalis grup band, bukan pasukan lengkap tiap personil band. Dani Dewa, Ariel
Peter Pan, Armand Maulana Gigi adalah para vokalis yang
diundang. Mereka menyanyikan lagunya Nidji bersama Giring.
Jika Nidji adalah acara intinya, lalu apa hiburannya? Ternyata bintang tamu
yang diundang untuk menghibur adalah Letto. Lha kenapa Letto disebut sebagai
bintang tamu sedangkan para vokalis undangan jadi pengiringnya? Ternyta Letto
punya nuansa lain. Ia sama sekali bukan Ndiji, sehingga tidak bisa disatukan
dengan hingar bingar musik Nidji yang energik. Letto datang menawarkan
kelembutannya, kepiawaiannya dalam mengemas kata dan meramu bahasa. Ia datang
dengan karakternya yang halus dan romantis. Keromantisan ini dikemas dalam pilihan kata yang
mengalir dan sangat puitis. Praktis Letto membawakan lagunya sendiri, bukan
menyanyi bersama Giring. Maka Lettolah bintang tamunya dalam acara ulang tahun
Nidji.
Berbeda dengan Letto, Ndiji menghentak dengan karakternya yang lugas. Kesederhanaan
bahasa diramu dengan musik yang mengalun rancak dan tingkah pola Giring yang
lincah. Kau dan Aku, Hapus Aku, Shadow adalah beberapa single yang dimuntahkan
oleh Nidji.
”Kau s’makin menjauh. Kau
tetap menjauh dari aku”
”Kau dan aku selalu untuk
selamanya. Kau dan aku selalu untuk bersama”
”Sadarkan aku Tuhan dia
bukan milikku. Biarkan waktu waktu hapus aku. Yakinkah aku Tuhan dia bukan
milikku. Biarkan waktu waktu hapus aku”
adalah sebagaian kelugasan yang disuarakan oleh Nidji. Atau tepatnya
dinyanyikan oleh Giring. Kesederhanaan lirik ini diimbangi dengan kelarutan
musik yang membuncah dan gaya Giring yang memukau menarik pandang. Alhasil
adalah orkestrasi musik Nidji yang meriah, heboh, berenergi. Simfoni telah
diciptakan dengan sempurna. Kesatuan yang menyuarakan keunggulan.
Kembali kepada Letto yang terpisah dari barisan lagu-lagu Nidji. Letto
punya kompleksitas lirik yang berbeda dengan Nidji. Oleh karena itu,
keanggunannya dipisahkan dari hentakan gegap gempita Nidji. Musiknya yang
mengalun sederhana bak air yang mengalir dihiasi dengan suara Noy yang halus
melantukan kata-kata indah. Ini juga merupakan orkestrasi keunggulan. Coba
rasakan!:
”Kau datang dan pergi o
begitu saja. Semua ku terima apa adanya. Mata terpejam dan hati menggumam. Di
ruang rindu kita bertemu”
”Ingatkah engkau kepada embun
pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya. Ingatkah engkau kepada angin
yang berhembus mesra yang kan membelaimu cinta”
Ketidakbersandingan Nidji dan Letto adalah karena keduanya punya kekuatan
khas yang berbeda. Sang sutradara panggung telah membagi lini kekuatan dengan
apik. Seperti halnya jamu atau obat yang digunakan untuk kegunaan kesehatan
tertentu, materi lagu dan vokal Noy tidak cocok untuk para musisi Nidji yang
dahsyat. Begitu juga sebaliknya, alunan musik Letto yang lembut akan memperlemah
bahkan mematikan gerak Giring jika keduanya dipadukan. Inilah karakter yang
menempati posisinya yang tepat. Bisa saja Noy ikut menyanyikan lagu Ndiji
bersama Giring. Tetapi
sutradara tidak mau menghilangkan karakter Letto. Berbeda dengan Dani, Arman, Ariel
yang dari sononya punya hentakan yang hampir sama. Mereka lebih greng jika
disatukan dengan gegarnya musik Nidji.
Orkestrasi nan indah tidak hanya terjadi dalam Nidji (beserta gerombolan
vokalis) atau Letto saja. Penataan yang cerdas juga terjadi pada skenario
panggung, dimana Letto masih tetap menonjolkan kelembuatannya yang mendayu dan
Nidji gayeng dengan hentakannya yang enerjik. Keduanya tercipta dalam hidup
yang larut dengan alunan musiknya. Jika bersenandung dengan Letto, maka
kelarutan akan terbawa pada pilihan kata dan alunan kalimat yang mempesona,
tidak jarang bikin merinding atau air mata mengalir. Sedangkan bila
bercengkerama dengan Nidji, maka kita melarut dalam gegap gempitanya yang
kadang tanpa terasa membuat kaki tersentak, tangan bergerak dan mulut bersorak
[ ]