BURAM LALU
Pendusta telah menangis
Benar-benar tersedu dan bukan bualan
Rintih? lebih dari penyesalan
Renungan adalah tilas kegalauan masa lalu
Terdampar dalam jurang
Terperosok dalam kelam
Terlempar jauh dan kembali jauh
Sendiri tertatih
Tak sendiripun merintih
Cahayamu telah datang
Dekatmu semakin jauhku
Tahukah kau, butaku tak bersinar
Isak senyum kemenangan
Tangis seberang pembunuhan
Ku berbaring dalam remang
Tak perlu tunggu dua abad tuk sadari itu
Akarmu selamatkan dari luka, sakit dan sandungan
Yakinlah kain lusuhmu akan kembali putih
Lenyapkan jika aku serupa noda
Larilah dalam damai pikirmu
Ini adalah puisi yang secara tidak sengaja saya temukan di tong sampah. Dengan otak yang tengil, tak lepas dari kejahilan (bukan kejahiliahan) coba otak-atik untaian suara hati yang tak bertuan ini. Mungkin sebelumnya saya turut berduka atas lusuhnya puisi yang sudah berbau, kecoklatan, kertas compang-camping ala kadarnya, ada sedikit sambal tomat di bagian bawah kertas, tulisan tangan yang malas dan penuh keraguan. Aku pikir kertas tak sepenuhnya mencerminkan kondisi otak penulisnya, maksudnya otak kotor (sory kalau ada yang tersinggung). Bak pemulung yang hanya ingat lapar, saya lagi menghayati peran. Saya ambil tulisan itu layaknya seorang pahlawan yang dikirim untuk penulis (he..he..). Atau mungkin bukan selalu pahlawan bagi penulis, karena bisa saja tulisan ini memperluas peradangan pada hati penulis.
Dengan sok empati, saya coba selami isi hati penulis. Tak perlu tabung oksigen kalau sekedar ikut merasakan kegalauan dan kesepian dari penulis. Karena mahal (tabung oksigen, red.), maka enaknya pakai saja kata-kata, atau sebut saja katarsis diktif dari penulis ini.
Wah kayaknya penulis lagi nyesal banget akan masa lalunya. Lihat aja judulnya, “Buram Lalu”. Tapi ternyata penyesalan itu lebih menyesalkan apa yang menjadi penyesalan sang tertuju. Artinya, puisi itu ditujukan kepada orang lain yang juga larut dalam penyesalannya, dan inilah yang lebih disesalkan penulis puisi itu. Dialog hati ini bisa dilihat dengan adanya beberapa kata ganti orang kedua (tertuju) yang dihadapkan dengan orang pertama (penulis puisi), misalnya “cahayamu telah datang”, “dekatmu semakin jauhku”, “tahukah kau, butaku tak bersinar”.
Saling tuduh terjadi pada awalnya dengan kata-kata yang diungkapkan penulis, “pendusta”. Hanya sebuah komunikasi cermin karena keduanya telah menyatakan sebagai pendusta. Kesejajaran dengan kesamaan perasaan bisa diikuti dari beberapa baris pertama tentang “benar-benar tersedu dan bukan bualan”, ini lanjutan pengukuhan dari diri sebagai pendusta. Kata “rintih ? lebih dari penyesalan” juga menceritakan perasaan penulis dan menjelaskan perasaan tertuju kepada tertuju sendiri. Perasaan yang sama juga dirasakan keduanya (penulis dan tertuju) dengan kalimat, “renungan adalah tilas kegalauan masa lalu”.
Menurut saya, ini lebih dari sekedar puisi, tapi ini suara hati. Karena selanjutnya, tamparan demi tamparan diberikan pada tertuju. Tapi juga sayang, tamparan itu seperti halnya nafas postmodern yang membentur dinding dan kembali menjadi gema. Tertuju telah tenggelam dalam penyesalannya dan penulis hanya sendiri dalam sepi. Ini bisa ditunjukkan dengan “cahayamu telah datang” yang dirangkai dengan “dekatmu semakin jauhku”. Ini bisa ditafsirkan dengan cahaya yang didapat oleh tertuju, tapi penulis semakin jauh. Bisa juga dikatakan jauhnya dari cahaya yang sementara ini cuma tertuju yang mendapatkannya. Ini juga semacam ketidakpedulian tertuju pada penulis. Tertuju larut dan asyik dengan apa yang dicapainya tanpa peduli si penulis. Ini bisa ditunjukkan dengan “tahukah kau, butaku tak bersinar”. Selain itu dengan baris yang sama, penulis merasa bahwa tertuju telah meninggalkan penulis dalam kekalahan dan juga diperkuat oleh “tangis seberang pembunuhan”.
Penulis juga dengan berat hati melepaskan semua dan menyerahkan pada kehendak-Nya. Bagi penulis, tertuju adalah yang utama karena keselamatan, kebahagiaan dan ketenangan yang penting adalah untuk tertuju. Semua ini bisa ikut dirasakan dalam baris-baris, “akarmu selamatkan dari luka, sakit dan sandungan”, “yakinlah kain lusuhmu akan kembali putih”, “lenyapkan jika aku serupa noda” dan “larilah dalam damai pikirmu”. Mungkin penulis adalah penganut “cinta tak harus miliki” (wah sok tahu banget).
Buat penulis puisi, trimakasih atas inspirasinya dan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika apa yang saya rasakan ketika membaca puisi Anda ternyata tidak sama dengan apa yang Anda rasakan dan alami. Akhirnya untuk penulis, saya sarankan nikmati saja kesendirian Anda karena Tuhan maha adil. Kata-kata “ku berbaring dalam remang” bukan berarti Anda kalah, tapi itu waktunya Anda untuk berkontempelasi [ ]
Posted at 08:03 pm by Rudi Cahyono