Alkisah
datanglah sebuah kesempatan yang menuntun saya pergi ke kota bagian timur dari
Jawa, Jember. Tugas dari kampus membuat saya mencicipi untuk kali kedua ke kota
kecil yang luas tersebut. Kali kedua, karena seminggu sebelumnya saya juga
mendatanginya untuk urusan penggalian data sehubungan dengan kegiatan seminar
pada kali kedua saya ke jember.
Kesempatan
santai di sela jam istirahat untuk makan dan sholat Jumat, saya bertemu dengan
seorang teman yang mempertaruhkan dirinya untuk menjadi pendidik di sebuah
universitas yang memfokuskan diri pada dunia kependidikan. Dia adalah seorang
dosen baru di sana.
Kebetulan
teman saya ini lulusan dari perguruan tinggi yang sama dimana ia sekarang
mendedikasikan sebagian hidupnya, kalu tidak disebut memberikan seluruh
hatinya. Karena satu sebab ini, sedikit banyak ia mengenal dalemannya fakultas
beserta orang-orang yang lebih lama menghuni tempat itu.
Singkat kata
(bergaya SBY), ia curhat sehubungan dengan betapa kenalnya ia dengan kampus
tercintanya. Perlu dijadikan landasan pengetahuan terlebih dahulu, teman saya
ini merupakan orang yang supel, ramah, banyak teman, sopan, suka humor,
bercanda dan ekspresif. Untuk ciri yang terakhir ini ia memulai curahan
hatinya. Saking ekspresifnya, sampai-sampai ketulusan hatinya terbahasakan
dalam gerak tubuh yang lincah mengikuti perasaannya yang terkadang
meledak-ledak. Letupan-letupan dahsyat tersebut menunjukkan keenceran otaknya
yang terus mengalir, mencipta, berkreasi, memodifikasi dan mengasosiasi.
Kekuatan yang
seharusnya menjadi kebanggaan ini justru menjadi topik curhat dengan tema
keluahan. Sebagai dosen baru, ia berusaha mengerem inisiatifnya untuk tidak
terlalu berani banyak berinisiatif, mencoba-coba, atau mencari gara-gara. Lebih
amannya ia mengambil langkah pasif-reaktif dalam bekerja dan bekerja sama
dengan rekan muda dan tua di kampusnya.
Namanya juga
anak muda, sesekali ia juga kelepasan dengan otak bocornya. Seperti yang pernah
dikatakan Romi Rafael (Master Hipnotis), bahwa bahasa yang tidak bisa menipu
adalah bahasa tubuh. Tidak jarang gestur dan ekspresinya menggambarkan
keceriaan yang menjadi indikator kecerdasannya. Untuk satu ekspresi ia harus
membayarnya dengan mahal. Pembimbing tugas akhirnya pernah berkata bahwa ia
kekanak-kanakan, meski sang pembimbing tau ada kedewasaan di dalam dirinya.
Tapi bagian perkataan “kedewasaan” lebih menjadi basa-basi, karena sarang dan judgement yang paling kuat adalah pada,
“Jangan selengekan!”. Hal yang sudah lama ia sadari ini mengingatkan kembali
bahwa ia haru hati-hati bersikap. Pengalaman ini menjadi lebih reliable ketika
seorang dosen senior mengatakan bahwa ia mbegeges
dengan kata-kata, “Koe iku wis dosen, ojok mbegeges wae!”. Pengalaman kedua
membuat ia menjadi lebih tidak enak lagi, sehingga ia terpaksa harus ambil aksi
diam untuk beberapa hari. Alasannya tentu saja karena ia tidak ingin bertindak
salah. Image bahwa ia petakilan
(setidaknya bagi dosen tua) sudah lama tertaman, sampai suatu ketika gerak
matanya yang aktif berpikir dipandang sebagai tidak memandang (tidak
menghargai) orang yang sedang berbicara.
Suatu ketika
terbukalah satu tabir lagi. Teman dekatnya yang juga dosen ternyata selama ini
juga memandangnya sebagai orang yang cengengesan. Teman yang biasanya
bercengkerama, bermain, guyonan, mempunyai pendapat yang sama dengan para dosen
tua. Sepertinya si teman ini mengemban misi suci pesan dari dosen tua untuk
membawa teman saya kembali ke “jalan yang benar”.
Temanku hanya
bisa bilang, “Saya ini belajar juga dengan tubuh. Setiap molekul dalam tubuh
saya belajar jauh lebih aktif ketika saya bergerak. Saya juga bertipe somatik.
Saya salah satu dari sekian banyak yang dianggap gila hanya karena memberikan
hak pada tubuh untuk bergerak dan belajar”. Ia mengatakan ini karena ia yakin
bahwa temannya itu akan lebih ngerti mengingat mereka berasal dari universita
yang bergerak di bidang kependidikan yang seharusnya tuntas dalam mempelajari
soal Learning.
Pengalaman
ini menunjukkan kepada kita bahwa norma yang disepakati kadang lebih kejam dari
pada hukum yang menguasai hajat hidup manusia. Pandangan (mindset) juga menjadi saudara tiri yang tidak kalah kejamnya dalam
menjustifikasi orang. Norma yang lebih berpihak pada tradisi yang dianggap
sopan tidak mengakomodir hak untuk sekedar tersenyum, memekarkan otak dan
menjadi lebih cerdas.
Norma tidak
jarang hanya menempat eksistensi dengan tidak memuat esensi. Orang sudah lupa
fungsi dan dengan manfaat apa norma dijalankan. Keterikatan pada cara dengan
melupakan tujuan membuat jalan tak berarah. Senjata akhir untuk sebuah alasan
tidak lebih dari jawaban, “Pokoknya itu, harus begitu!”. Bahkan ukurannya
menjadi alasan untuk menanamkan suka atau tidak suka.
Lalu, esensi
apa yang dikosongkan dari wadahnya? Pemahaman akan perbedaan. Pandangan saya
yang sudah lama dipersenjatai dengan rasionalisasi individual differences, lebih setuju jika kita meninjau kembali
justifikasi yang sudah tidak punya alasan relevan tersebut. Apa yang diucapkan
oleh teman saya merupakan siksaan yang ia alami. Coba bayangkan jika deng
menahan tersenyum dan menggerakkan tubuh sesuai kata hati, seseorang harus
mengorbankan pengembangan myelin, mempercepat pemunahan neuron dan penyusutan
otak. Molekul-molekul yang senantiasa menuntut haknya untuk ikut serta dalam
pembelajaran tubuh menjadi bisu, kelu dan membeku.
Tempat
belajar temanku yang bergeak di bidang kependidikan tersebut seharusnya
mewadahi kebebasan gerak temanku dengan alasan sedikit pengetahuan tentang
modalitas belajar SAVI (somatic, auditory, visual dan intelectual). Sepertinya
keluhan teman saya ini juga sebagai bentuk perlindungan dari kebiasaan lama
yang melarang siswa untuk berjalan-jalan, melompat, berbicara, tertawa. Tentu
kita masih ingat ketika kita tidak boleh berisik atau membuat gaduh pada waktu
TK atau SD dulu. Atau ketika pulang dengan mematung (anteng-antengan), siapa yang diam pulang lebih dulu. Ini merupakan
warisan politis dalam membelenggu kita untuk tidak menjadi lebih pintar.
Sekarang coba
bayangkan jika dosen muda tersebut adalah Anda. Apakah Anda akan menjadikan
diri Anda bodoh sedikit demi sedikit? Sekarang berpindahlah tempat dan lihatlah
diri Anda di tempat yang lama tadi. Bayangkan jika yang Anda lihat adalah anak
Anda. Apakah Anda juga akan membiarkan anak Anda batal untuk menjadi lebih cerdas?
Sekarang naiklah ke meja atau kursi yang ada di dekat Anda (hanya jika Anda
tidak mengharamkan tindakan tersebut). Lihatlah diri Anda yang pertama.
Bayangkan bahwa Anda sebagai orang tuanya sekarang juga merupakan dosen senior
dari Anak Anda. Apa yang akan Anda lakukan terhadapnya?
Oposisi biner adalah biang keladinya. Kaya-miskin, sehat-sakit,
hidup-mati dan sebagainya telah menghilangkan dua pasang konstruk
tersebut sebagai keadaan yang gradatif. Semua pilihan seolah terpojok
dalam dua wilayah yang mereduksi banyak pilihan yang lain. Sepertinya
tidak ada keadaan di luar kaya dan miskin, sehat dan sakit, hidup dan
mati. KONSTRUKSI ACAK Berbagai
keadaan yang akhirnya didikotomikan sebenarnya adalah konstruksi acak
yang tidak lebih dari kemungkinan keadaan yang juga punya kesempatan
sama untuk terjadi. Label-label keadaan tersebut punya fungsi ganda
yang melahirkan rasa. Kemiskinan bisa melahirkan rasa miskin atau
sebaliknya sebuah perasaan diidentifikasi sebagai rasa dari kemiskinan.
Rasa itu bisa jadi sedih, resah, marah dan sebagainya. Jika perasaan
itu sebagai pengiring atau keadaan yang kemudian diidentifikasi sebagai
(dampak) kemiskinan, maka rasa bahagia, senang, bersuka cita juga
mempunyai kemungkinan yang sama untuk mengiringi atau menjadi dampak
dari kemiskinan, demikian juga dengan keadaan kaya.
DIKOTOMI SEBAGAI PARADOKS Sesungguhnya
dua keadaan yang berlawanan tersebut sebenarnya terdapat di antara satu
sama lainnya. Hal ini melebihi dari sekedar pameo, "orang sakit yang
mengetahui betapa nikmatnya sehat", "orang yang menerima kemiskinan apa
adanya adalah orang yang paling kaya", atau "mati adalah titik awal
dari kehidupan" dan sebagainya. Kenapa demikian? karena orang sakit
dapat memilih rasa dari keadaannya sebagai kesehatan. Begitu juga
dengan kemiskinan yang diterima sebagai kekayaan.
PILIHAN (TER)KONSTRUK(SI)TIF Karena
setiap keadaan mempunyai peluang yang sama, maka pasangan antara
keadaan dan rasa juga bisa dilakukan secara acak menurut konstruksi
yang diinginkan. Kemisiknan (misalnya), tidak hanya bisa dipasangkan
dengan kesedihan, tetapi mungkin juga dipasangkan dengan kebahagiaan.
Hal ini yang mungkin menjadikan kematian sebagai energi hidup bagi
orang-orang tertentu.
PERKAYA PILIHAN Dalam satu kata yang
menunjukkan keadaan saja masih didapati banyak pilihan, apalagi
pasangan antara keadaan dan rasa yang ditimbulkannya. Selain kemiskinan
yang diterima sebagai kekayaan, rasa antara miskin dan bahagia juga
bisa dipasangkan secara sembarang. Hal ini memang tidak mudah bagi
semua orang. Diperlukan kerja simultan antara pikiran, perasaan dan
tindakan nyata yang menguatkan sebagai tanggapan yang mengada atas
sebuah keadaan. Setiap orang berhak mempersepsi, merasakan dan
memasangkan keadaan apapun menurut seleranya. Jadi, apa yang dikatakan
oleh Tong Sam Chong dengan kosong adalah isi dan isi adalah kosong
bukan bualan kosong belaka, tetapi memang benar-benar ada.
Sebuah benda nyata yang punya fungsi jelas, digunakan sebagai alas kaki. Ternyata sepatu bisa menjadi urusan negara, sepatu bisa membawa orang bertamasya melalui persidangan dan mendekam di penjara. Begitulah perjalanan Mutazar al-Zaidi.
Pekerjaan al-Zaidi mungkin belakangan ini terlalu overload. Seandainya dia konsisten dengan pekerjaan yang sejenis dan fokus menekuninya, mungkin kariernya tidak akan segemilang ini. Coba bayangkan jika ia tidak beranjak dari pekerjaan sebagai kuli disket (sekarang mungkin kuli flash disk kali ya), maka ia tidak akan mendapatkan berkah berupa ketenaran seperti sekarang ini.
Berawal dari inisiatifnya yang bagus dalam memperluas pekerjaannya, dari menjadi wartawan sampai pada nyambi menjadi pelempar sepatu. Jika kita pikir lagi, hal yang tidak nyambung, secara asosiatif bisa menjadi sebuah kreasi besar. Merupakan kombinasi yang apik antara pengais dan pelapor berita dengan pelempar sepatu.
Alih profesi (atau nyambi profesi lebih tepatnya) menjadi pelempar sepatu mulai ditekuni semenjak dia berhadapan dengan calon partner bisnisnya. Tidak tanggung-tanggung, ia memilih presiden Amerika Serikat, George Warrior Bush sebagai rekanannya.
Runut sejarah, Bush ternyata adalah kepala negara. Pada frasa "kepala negara" terdapat kata "kepala" yang pada kenyataannya merupakan bagian tubuh bagian atas dari manusia. Di situ terdapat rambut yang katanya disebut sebagai mahkota (oleh wanita) dan ada otak yang juga merupakan organ paling vital (bukannya organ vital itu....). Berdasarkan letak dan fungsinya yang terhormat, maka di beberapa budaya ditabukan untuk memegang, menjendul, atau menonjok kepala, apalagi melempar sepatu kepadanya. Nah, kebetulan yang mengalami pelemparan kepala tersebut juga sekaligus kepala negara. Luar biasa.
Pelemparan kepala Bush oleh al-Zaidi akhirnya juga melibatkan banyak orang dan dua negara karena telah diketahui oleh halayak. Mungkin jika pelemparan itu dilakukan di WC, maka Bush tidak bisa apa-apa, selain ngeden menahan rasa sakit dan ngeden yang lainnya.
Sepatu letaknya di bawah, berfungsi untuk alas kaki. Bagaimana jika dua buah sepatu secara bergantian melayang menuju kepada kepala dari kepala negara? Itulah yang menarik. Sebenarnya itu bisa menjadi versional jika dilihat dari dua sisi, sisi si pelempar sepatu dan sisi si kepala peresiden.
Sebenarnya tindakan tersebut merupakan perilaku yang tidak wajar. George Bush pun akan sepakat dengan ini, termasuk al-Zaidi sendiri. ya bagaimana mungkin sepatu bisa melayang dan menuju ke kepala. Di sepak bola saja ini sudah termasuk pelanggaran. Bedanya, di sepakbola karena ada kesepakatan yang jelas tentang aturan ini. Coba, Bush dan al-Zaidi menyepakati ini dulu, mungkin keduanya akan fine.
Hal ini akan bertahan dalam ketidakwajaran ketika Bush (mungkin bacanya Amerika Serikat) perilakunya sama dengan pengawal presiden yang berusaha menyelamatkan mukanya karena itu sudah tugasnya (baca jobdesc). Kalau tidak, maka mereka bisa dipecat tentunya. Tindakan mekanis yang sepatutnya tidak ditanggapi atau ditiru secara mekanis pula. Mudah-mudahan Bush bisa mendengar apa yang dikatakan al-Zaidi sehingga kesepakatan bia dibuat kembali seperti proses terbentuknya aturan dalam permainan bola.
Karena sebenarnya tindakan al-Zaidi yang berusaha merukunkan kepala dan sepatu itu menjadi rasional ketika ada jembatannya. Apa jembatan antara kepala dan kaki? Hati, hati adalah jawabannya. Hati al-Zaidi telah menggerakkan dia untuk mendialogkan sepatu dan kepala, kaki dan kepala negara.
Ini adalah hari kedua setelah malam pertama diisi dengan kegiatan
santai. Sebuah acara pelatihan untuk organisasi mahasiswa yang dinamai Unit
Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penalaran. Organisasi ini merupakan kumpulan dari
mahasiswa yang menykai pergulatan dengan pemikiran, membuat karya tulis,
program pengajian keilmuwan dan diskusi.
Seperti halnya hari ini, pelatihan diadakan sebagai penyambutan atau
upacara inisiasi buat anggota baru, diselenggarakan di Batu 28-30 November
2008. Pelatihan semacam ini (yang biasa disebut dengan pendidikan latihan atau
diklat) memang selalu diadakan setiap tahun ketika menerima anggota baru.
Minggu pagi ini juga ada sekitar 60 orang peserta yang mengikuti materi hari
ini.
Yang akan diceritakan kali ini adalah bagian transformasi cinta. Sesi
ini merupakan amanat dari para senior organisasi yang menginginkan anak buahnya
memiliki integritas dan mencitai organisasi.
Sebagai penyenang dan penyemangat awal, para peserta yang memang sudah
dikelompokkan pada sesi sebelumnya, diajak untuk berpose di depan kamera. Tiap
kelompok berhak untuk membentuk formasi dan bergaya yang seseru mungkin. Mereka
diberikan kesempatan berfoto tiga kali yang kemudian dipilih salah satunya. Foto
yang mereka pilih dicetak di kertas.
Focus dikembalikan kepada sesi inti. Sebagai stimulus awal, peserta
diajak membiacarakan tentang organisasinya dan hubungan mereka dengan
organisasi. Setiap peserta diajak untuk membayangkan benda, lokasi dan suasana
yang menarik buat mereka. Berbagai hal atau benda bisa dibayangkan, bahkan
imajinasipun tidak dilarang. Setelah membayangkan banyak hal, dibagikan kertas
buat mereka, masing-masing satu lembar. Peserta diminta memilih salah satu
benda, suasana atau keadaan yang menurut mereka mencerminkan organisasi mereka.
Dibuatlah gambarnya di kertas. Peserta dikelompokkan dan tiap orang bercerita
di dalam kelompoknya. Banyak cerita-cerita menarik yang muncul tentang analogi
atau metaphor dari UKM Penalaran.
Sebagai tambahan, peserta diminta melipat kertasnya dua kali, sehingga
membentuk dua garis yang saling tegak lurus berpotongan di tengah kertas.
Peserta mengamati posisi gambarnya terhadap garis yang berpotongan. Ada yang
tidak memotong sama sekali, kecil di bagian pojok kertas, namun ada juga yang
tepat di tengah dan gambarnya cukup besar. Hal ini hanya sebagai tambahan yang
menggambarkan tingkat intensi setiap anggota organisasi terhadap organisasinya.
Atau lebih mudahnya disebut sebagai tingkat partisipasi atau keterlibatan.
Semakin ke tengah atau memotong persilangan garis, tingkat kepecayaan diri
anggota untuk terlibat dalam organisasi cukup besar.
Kembali kertas dibagikan untuk masing-masing orang. Sekarang tiap
peserta diajak untuk membayangkan pengalaman masing-masing tentang kasmaran dan
jatuh cinta. Kecintaan terhadap istri atau suami, pacar atau teman dibayangkan
sampai detil. Dalam waktu satu menit, peserta diberikan kesempatan untuk
mendaftar kata-kata kunci yang menggambarkan perasaan atau pikirannya tentang
kasmaran.
Kembali ke dalam kelompok. Semua kata kunci yang didapat oleh kelompok,
dipilih 10 kata yang paling menarik, menginspirasi atau menggairahkan.
Foto tiap kelompok yang sudah dicetak dibagikan. Dengan kertas manila,
foto itu boleh ditempel dan dihias. Foto tersebut adalah gambaran organisasi. Cerita
tentang organisasi muncul dari foto tersebut. Setiap kelompok mengobrolkan
cerita-cerita tentang organisasi berdasarkan foto. Hasil dari sharing
dituangkan dalam berbagai bentuk, bisa puisi, kata mutiara, motto, slogan, lagu
atau akronim. Penuangannya dengan memanfaatkan 10 kata terpilih yang
berhubungan dengan kasmaran atau jatuh cinta.
Hasilnya bermacam-macam, gambara tentang organisasi yang penuh cinta,
guyub, saling toleran, saling mendukung, produktif, kompetitif dan sebagainya.
Pada akhirnya peserta menyimpulkan tentang kecintaannya terhadap
organisasi dan fasilitasi transformasi cinta organisasi berhasil dilakukan.
Seorang pahlawan kembali gugur. Memang, untuk dikenang sebagai pahlawan di negara kita, orang harus memilih mati daripada hidup. Bukan fakta aneh kenapa penghargaan terhadap para pahlawan perjuangan yang masih hidup tidak sebesar penghargaan kepada mereka yang nyawanya melayang, meski penghargaanya hanya berupa monumen atau nisan porselin. Kalaupun ada peringatan tahunan, itu semua hanya tinggal peringatan, tetapi gaung tindakan berupa penerusan cita-cita pahlawan untuk membangun negara tidak kesampaian.
Hari ini kembali gugur seorang pahlawan. Maftuh Fauzi telah meninggal dunia setelah dua hari dirawat di RS UKI dan sembilan hari dirawat di RSPP. Belum tahu apa gelar yang diberikan untuk pahlawan satu ini. Apakah pahlawan perjuangan rakyat, pahlawan BBM, atau pahlawan mahasiswa?
Sehubungan dengan status kepahlawanan ini, mengetahui penyebab sangat penting. Banyak pihak dengan berbagai kepentingan dan dasar keahliannya telah mendaulat penyebab kematian Maftuh. Selain analisa penyebab, kematian ini juga menyulut tindakan untuk memunculkan lagi kepentingan yang baru. Yang jelas kematian seorang Maftuh bisa menjadi alat untuk saling menganalisa, mencari belang, menguak dan akhirnya menyerang.
Sebenarnya secara simpel penyebab kematian Maftuh sudah pasti satu, kehendak Tuhan. Namun jika menjadikan ini kesimpulan, maka Maftuh sendiripun, sambil merem juga bisa mengatakan ini. Beranjak dari sini, melihat kematian Maftuh memang bisa secara sederhana atau dibikin rumit. Pertama coba kita lihat secara kronologi linear. Kematian Maftuh terjadi setelah ia dirawat di tiga rumah sakit dan secara kebetulan akhirnya ia meninggal di RSPP.
Jika dirunut berdasarkan tempat dan waktu, maka dari RSPPlah perjalanan mundur dimulai. Coba dilihat apa yang dilakukan RSPP terhadap Maftuh dan apa hasilnya. Ada dua hal yang memang menjadi hak rumah sakit untuk merahasiakannya, yaitu proses dan hasil. Jika sedikit saja kita diberikan hak untuk mengetahui proses pemeriksaan dan mendapatkan gambaran jelas tentang hasilnya, maka akan jelas penyebab kematian Maftuh. Hal yang sama juga bisa dirunut di RS UKI maupun RS Pasar Rebo.
Tidak hanya berhenti pada kejelasan proses dan hasil pemeriksaan. Jika mengacu pada tiga tempat, maka transisi antar tempat juga perlu diperhatikan. Perpindahan antara tiga rumah sakit juga perlu dicermati. Hal penting yang perlu dicermati jika seorang pasien dipindahkan adalah alasan rujukan dan kemana dirujuk.
Beberapa alasan bisa mendasari seorang pasien dipindahakan dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain. Kelengkapan rumah sakit, ketersediaan tenaga ahli, tingkat keparahan yang diderita pasien, bisa menjadi alasan rujukan. Ketiga alasan tersebut merupakan alasan yang umum. Tentunya pemindahannya dari yang fasilitasnya kurang ke yang lebih canggih atau dari yang tenaga ahlinya tidak tersedia ke tempat yang menyediakan. Alasan ini kemudian menjadi aneh jika rujukan malah dipindahkan ke rumah sakit yang lebih miskin tenaga atau peralatan, kecuali ada permintaan keluarga karena kendala tempat, misalnya di daerah atau luar negeri. Yang seperti itupun sangat jarang dilakukan. Orang akan lebih mementingkan kebutuhan pasien.
Selain alasan dan tempat rujukan, transisi antar rumah sakit juga perlu memperhatikan pihak yang merujuk atau meminta rujukan. Normalnya rujukan dibuat oleh seorang dokter karena mereka adalah pihak yang paling tahu kondisi pasien dan pelayanan yang dibutuhkannya. Meskipun demikian, rujukan seorang dokter juga perlu dilihat tingkat independensinya, apakah atas inisiatif dokter sendiri atau ada pihak lain yang memintanya. Jika ada pihak lain, siapa pihak tersebut dan atas kepentingan apa ia meminta. Lagi-lagi, jika untuk kepentingan pasien, maka hal tersebut masih dikatakan wajar, asal bukan rasionalisasi yang dibuat-buat.
Pada kasus Maftuh, pemindahan dari RS UKI ke RSPP atas permintaan pihak Unas juga layak diperhatikan. Jika yang meminta adalah pihak Unas secara institusi dan diserahkan kepada RSPP juga secara insitusi profesional, ini juga masih tergolong wajar. Namun jika pemindahan terjadi atas inisiatif individu, maka perlu dilihat siapa yang punya inisiatif. Yang menarik adalah, adakah keterkaitan dengan permintaan Purek III dan Biro Humas Antar Lembaga Unas untuk mengakhiri aksi tuntutan pembebasan mahasiswa yang ditangkap polisi?
Begitu juga penyerahan kepada RSPP, jika diserahkan kepada dokter tertentu, siapa dokter tersebut. Maka kemudian yang perlu dikuak adalah hubungan apa antara orang yang merujuk dan dokter yang bersangkutan. Adakah pihak luar yang punya kepentingan atas proses tersebut, misalnya pihak tertentu di dalam Polisi Pengendalian Massa (Dalmas)? Jika ada, apa kepentingannya?
Seluruh analisis di atas adalah pemetaan berdasarkan tempat dan waktu yang terlibat langsung atas hidup dan meninggalnya Maftuh. Di samping dua hal tersebut, coba kita lihat ke dalam diri Maftuh. Artinya kita juga perlu melihat keadaan Maftuh pada saat sebelum, menjelang dan akan meninggal. Tentu saja ini berhubungan dengan analisis waktu dan tempat di atas. Pihak RS UKI menyatakan bahwa dirwatnya Maftuh berawal dari luka pada kepalanya pasca penyerangan aparat. Sedangkan versi dari RSPP menyatakan penyebab kematian Maftuh tersebut karena infeksi sistemik yang berawal dari infeksi paru-paru yang menjalar ke seluruh bagian tubuh. Tidak hanya itu, desakan dari mahasiswa terhadap RSPP memunculkan fakta lain bahwa Maftuh positif terkena HIV.
Dua hal yang diungkapkan oleh dua rumah sakit yang berbeda ini bisa jadi sama benarnya. Coba kita lihat berdasarkan analisis keadaan Maftuh waktu sebelum, menjelang dan akan meninggal. Merujuk dari pernyataan RS UKI, bahwa dirawatnya Maftuh merawal dari pemukulan, ini bisa jadi pemicu dirawatnya seseorang di rumah sakit, siapapun itu. Hal ini dibenarkan dengan pernyataan Maftuh bahwa kepalanya bagian atas terasa sakit. Fakta bahwa ia mengalami infeksi paru-paru juga bisa jadi benar. Bahkan jika kita lihat keterpaksaan RSPP untuk mengungkap rahasia pasien bahwa Maftuh positif HIV, bisa dikaitkan dengan rentannya seseorang terkena infeksi. Hanya saja, mungkin RSPP lebih aman jika publik tahu tentang infeksi paru-paru daripada soal HIV. Namun, soal penyebab kematian, itu tidak bisa dipastikan hanya dengan fakta yang kemudian jadi bersifat spekulatif.
Mungkin yang perlu diteliti oleh pihak forensik adalah seberapa kuat pemukulan di bagian atas kepala sehubungan dengan kematian, sampai stadium berapa infeksi HIV yang ada di tubuh Maftuh (jika memang ada) dan bagaimana pengaruhnya terhadap kematian, serta yang terakhir adalah seberapa kuat pukulan bisa memicu aktivasi HIV secara cepat hingga menyebabkan kematian.
Dari hasil ketiga pemeriksaan ini akhirnya dapat terjawab, apakah orang yang mengikuti demo dalam keadaan segar bugar lebih bisa terbunuh secara tiba-tiba oleh HIV atau oleh pentungan aparat?
Dengan didasari rasa cinta kepada Indonesia, saya berusaha menulis ini untuk alasan “siapa tahu”. Maksudnya, saya sebagai penulis berharap tulisan ini dilirik untuk menarik perhatian agar dibaca. Membaca tulisan ini diharapkan memperoleh pemahaman dan tanggung jawab bersama untuk pencapaian prestasi Indonesia di mata dunia.
Tulisan ini dibuat pas setelah tim Thomas “mengalah” kepada Korea. Dibuat dengan tergesa-gesa untuk mengejar penyelamatan dan pencapaian tim Uber membawa pulang milik kita, supremasi, lebih dari sekedar piala Thomas atau Uber.
Ketika angka terakhir telah menobatkan Korea sebagai finalis dengan dikalahkannya Taufik Hidayat oleh Lee Hyun Il, maka seluruh energi telah drastis diserap oleh seluruh pemain dan oficial Korea yang merayakan kemenangan. Bahkan untuk membuat tulisan ini, saya juga harus mengumpulkan sisa energi yang saya dapatkan dari tawa yang diledakkan oleh Edric dan Adul ketika membawakan kuis. Tentu saja dengan password yang tetap, “ada Tomas ada Uber, piala yang lepas ayo diuber!”. Bukan slogan itu yang membangkitkan saya untuk menulis, tetapi lawakan mereka yang berhasil menerobos barier saya sehingga tawa bisa membangkitkan energi kembali.
Berbicara mengenai tawa, saya bersimpati terhadap pemain ganda Jerman yang sebelumnya telah ditumbangkan oleh tim Uber Indonesia dengan skor 3-1. Kedua dara Jerman tersebut sesekali tertawa, meskipun reli diakhiri dengan suttle cock jatuh di lapangan mereka. Pada waktu itu mereka melakukannya untuk menertawakan keuarangan mereka sendiri. Juga merupakan kekaguman mereka terhadap permainan cantik telah disuguhkan oleh tim mereka dan tim Indonesia. Tawa mereka mendatangkan energi, sehingga serangan mereka beberapa kali mengancam Gresia Polii dan Joe Novita, meski pada akhirnya mereka harus menyerah pada Indonesia.
Keberhasilan tim Uber Indonesia melibas Jerman ternyata disokong oleh ekspresi mereka di setiap kemenangan, sekecil apapun itu. Tiap kali mereka berhasil mengumpulkan angka, pada saat itu lah perayaan dilakukan, baik dengan berteriak “Yess!”, touch, atau mengepalkan tangan. Kebiasaan yang sama juga dilakukan oleh ganda pria Korea saat mengalahkan Markis Kido dan Hendra Setiawan. Bahkan Lee Yong Dee menari pada saat berhasil meraih angka setelah reli panjangnya mengungguli Markis Kido dan Hendra Setiawan.
Berbeda dengan Maria Kristin yang pada waktu itu ditekuk oleh tunggal Jerman, Xu Huaiwen. Maria Kristin lebih cool dalam menjalani setiap langkah permainan. Hal yang sama juga terjadi pada Sony Dwi Koencoro yang dikalahkan dengan rubber set oleh Park Sung Hwan, dan Taufik Hidayat yang takluk strict set di bawah pukulan raket Lee Hyun Il. Pada waktu itu, ketiga pemain Indonesia tersebut sangat mahal untuk melakukan perayaan jika mengalami keberhasilan. Mereka sangat jarang tersenyum, kurang ekspresif dan tidak mengirimkan gestur interaktif dengan suporter.
Padahal pada waktu dukungan diberikan oleh penonton, energi telah disalurkan kepada pemain. Bahkan pemirsa televisi yang ada di rumah pun juga melakukan hal yang sama. Untuk beberapa pemain kita, terutama Tim Uber, energi tersebut mampu diolah dan dipantulkan kembali kepada penonton dengan bermain lebih ekspresif. Lebih-lebih jika ekspresi tersebut diungkapkan untuk merayakan keberhasilan. Sorakan yang digemakan oleh superter Indonesia disalurkan dalam bentuk energi positif yang mengangkat moral pemain. Jika energi tersebut diolah dengan baik, dipadukan dengan imajinasi akan kemenangan, maka terjadi penguatan energi dengan cara resonansi. Penonton mendapatkan energinya kembali dari pemain, sehingga lebih bersemangat memberikan dukungan. Selain itu, energi yang berputar dan saling memperkuat di antara penonton juga semakin besar. Pada saat seperti inilah terjadi spiral energi menaik. Hal ini juga dimiliki dan dilakukan oleh tim China, baik Tim Thomas maupun Tim Ubernya.
Energi dari penonton bersatu dengan harapan mereka yang besar akan kemenangan. Kalau saja pemain kita, terutama Tim Thomas, mampu merespon energi dahsyat yang dikirim oleh penonton, saya yakin Tim Thomas pasti berhasil menaklukkan Korea. Memang tidak semua pemain tidak mengelola energi tersebut. Hanya saja memang kebetulan pemain yang diturunkan pada waktu melawan Korea adalah pemain dengan karakter yang dingin atau mungkin tenang menurut versinya tim thomas. Coba saja amati wajah Sony Dwi Koencoro, Hendra Setiawan atau Taufik Hidayat. Apakah wajah tersebut memantulkan energi kepada suporter? Jangankan memantulkan energi, menghiburpun tidak. Malah wajah mereka nampak seperti orang cemas. Pada saat sinyal wajah dingin itu diterima oleh penonton, saat itu terjadi usaha mendisonansi energi perlahan-lahan. Untung saja penonton masih terus menggalang energi di antara mereka, sehingga masih mau bersorak. Bandingkan dengan Tim Uber yang lebih ekspresif. Meskipun saya tidak berani memastikan, tapi saya yakin ekspresi mereka mempunyai peranan besar dalam keberhasilan mereka menjadi finalis.
Selain itu, kekalahan di partai sebelumnya akan mempengaruhi sirkulasi energi pada parati berikutnya. Kebekuan ini seharusnya dipecahkan oleh pemain di partai berikutnya setelah pemain sebelumnya mengalami kekalahan. Ambil contoh saja kekalahan tunggal China Lindan atas Lee Chong Wei pemaian Malaysia atau Sony Dwi Kuncoro yang berhasil digasak oleh Boonsak Ponsana dari Thailand. Untung saja Bao Chunlai, tunggal China, mampu mengalahkan Wong Chong Hann dari Malaysia, demikian juga dengan Markis Kido dan Hendra Setiawan yang berhasil menyisihkan ganda Thailand, Tesana Panvisavas dan Nuttaphon Narkthong. Atau contoh lain ketika ganda China, Cai Yun dan Fu Hai Feng, mengalahkan Koo Kien Keat dan Tan Boon Heong dari Malaysia. Keberhasilan ini akan berefek pada keberhasilan berikutnya.
Selain memang moral yang terangkat, perayaan kemenangan juga membuat keberhasilan itu berulang. Harapan yang bangkit dari diri pemain dan seluruh pendukung merupakan kekuatan bersar yang terfokus pada satu tujuan, yaitu menang. Ini yang disebut law of attraction oleh Michael J. Losier.
Bertolak belakang dengan Tim Thomas yang sebagian besar digawangi oleh pemain-pemain super cool. Masih beruntung mereka punya skill yang cukup tinggi. Akan tetapi, bemain di lapangan tidak cukup hanya mengandalkan skill. Seluruh konteks pada saat permainan dilangsungkan ikut memegang peranan. Pada waktu permainan itu lah atmosfir pertandingan diciptakan. Komponen personal, seperti pemain, pelatih, petugas lapangan, penonton atau supporter sangat berpengaruh. Begitu juga dengan komponen impersonal, seperti lapangan, peralatan bulu tangkis, pencahayaan juga ikut menentukan.
Jika dibandingkan dengan pertandingan yang sama di Amerika atau Negara-negara Eropa, pertandingan yang dilangsungkan di wilayah Asia punya atmosfir yang berbeda. Di negara-negara Eropa atau di Amerika, faktor skill menjadi hal utama dalam membentuk atmosfir. Jika pemain tidak mempunyai skill yang baik, maka pertandingan tidak akan menghibur. Berbeda dengan atmosfir pertandingan di wilayah Asia. Pembentuk atmosfir tersebsar adalah penonton. Oleh karena itu, faktor penonton patut diperhitungkan. Penonton di Asia, terutama di Indonesia, tidak pernah putus memberikan dukungan kepada pemain mereka. Sorakan, nyanyian, bunyi terompet, menggema mengiringi jalannya pertandingan. Hal ini lah yang menyebabkan penonton punya sumbangsih yang bersar dalam memberikan energi dalam pertandingan, terutama energi bagi pemain yang didukungnya. Jika tidak mampu dimanajemeni dengan baik, maka energi yang dikirimkan oleh suporter tidak akan berarti lebih daripada sekedar teriakan.
Memanajemeni suporter bukan cuma mengobjekkan suporter sebagai sumber sorak sorai. Yang menjadi fokus pengolahan adalah pada energi yang mereka kirimkan. Tentu saja harus ada saling dukung antara pihak yang berkepentingan dengan energi tersebut, yaitu pemain dan penontonnya. Jika dalam diri pemain energi tidak diolah dengan baik, maka proses yang terjadi adalah disonansi energi yang menjadi spiral energi menurun sampai terjadi pemunahan (energy distiction).
Selain muatan energi, dalam sorakan penonton terdapat muatan substansi, yaitu harapan untuk menang. Kemenyatuan antara keduanya menghasilan kekuatan yang dahsyat. Pengelolaan yang baik pada diri pemain seharusnya menjadi bagian dari porsi latihan mental.
Manajemen energi yang baik sebenarnya sudah terjadi secara alamiah (belum secara formal) pada Tim Uber. Seharusnya Tim Thomas belajar dari mereka. Pengelolaannya adalah dengan melakukan interaksi energi dengan penonton, yaitu merespon sinyal dari penonton dengan bermain lebih ekspresif. Jika mendapatkan kemenangan atau keberhasilan kecil, jangan ragu untuk bersorak menghadap penonton dan melakukan touch antar pemain dengan ekspresi yang ditujukan kepada penonton. Selain lebih menghibur, cara ini juga mengirimkan energi kepada penonton untuk semakin memberikan semangat.
Perayaan punya makna ganda yang juga bisa melipatgandakan keuntungan. Tuhan berjanji akan menambahkan kenikmatan terhadap sesuatu yang disyukuri. Seperti halnya orang yang tahu berterimakasih, maka yang memberi tidak akan segan untuk memberi lagi. Selain makna spiritual, perayaan sebagai rasa bersyukur juga mengangkat moral. Perayaan merupakan hadiah kecil yang diberikan secara spontan. Karena diberikan langsung, perayaan menjadi perekat yang kuat untuk mengaitkan keberhasilan dengan efek kesenangan yang ditimbulkannya. Dalam melakukan usaha selanjutnya, orang akan teringat bahwa keberhasilan bisa mendatangkan kebahagiaan. Akibatnya, energi yang ditimbulkannya juga akan semakin besar dan menjadi modal berikutnya.
Setiap elemen yang terlibat dalam suatu usaha, layak untuk ikut merayakan. Dalam permainan bulu tangkis, pemain, pelatih, penonton, manager dan semua pihak terkait juga berhak merayakan keberhasilan. Perayaan yang melibatkan semuanya dilakukan ketika keberhasilan dirayakan di luar lapangan. Hal ini pasti akan mengangkat moral pemain di laga berikutnya. Namun perayaan yang dilakukan langsung ketika mendapatkan keberhasilan-keberhasilan kecil juga sangat penting. Pada waktu di lapangan, pemain bisa melakukannya. Tentu saja hal ini akan mengangkat moral ketika menjalani pertandingan. Pada saat di lapangan, pihak yang terlibat hanya dua, pemain dan suporter. Pada saat itu lah interaksi energi harus dilakukan untuk terus memompa semangat pemain, dan tentu saja semangat penonton dalam memberikan dukungan.
Karena itu, saya berharap keberhasilan Tim Uber terus berlanjut. Dengan perayaan yang dilakukan secara ekspresif, baik dalam bermain maupun merayakan keberhasilan, Tim Putri Indonesia tidak hanya menjadi finalis, tetapi juga sukses membawa pulang Piala Uber. Mudah-mudahan Tim Uber tidak ragu untuk merayakan keberhasilan, sekecil apapun, dan mampu melakukannya dengan ekspresif.
Hari ini, tanggal 3 Februari 2008, Grup Band Nidji ulang tahun yang ke-6. Sebuah
perayaan diadakan oleh RCTI dengan mendatangkan beberapa band papan atas.
Menghadirkan grup band papan atas? Tidak, sebagian yang datang adalah para
vokalis grup band, bukan pasukan lengkap tiap personil band. Dani Dewa, Ariel
Peter Pan, Armand Maulana Gigi adalah para vokalis yang
diundang. Mereka menyanyikan lagunya Nidji bersama Giring.
Jika Nidji adalah acara intinya, lalu apa hiburannya? Ternyata bintang tamu
yang diundang untuk menghibur adalah Letto. Lha kenapa Letto disebut sebagai
bintang tamu sedangkan para vokalis undangan jadi pengiringnya? Ternyta Letto
punya nuansa lain. Ia sama sekali bukan Ndiji, sehingga tidak bisa disatukan
dengan hingar bingar musik Nidji yang energik. Letto datang menawarkan
kelembutannya, kepiawaiannya dalam mengemas kata dan meramu bahasa. Ia datang
dengan karakternya yang halus dan romantis. Keromantisan ini dikemas dalam pilihan kata yang
mengalir dan sangat puitis. Praktis Letto membawakan lagunya sendiri, bukan
menyanyi bersama Giring. Maka Lettolah bintang tamunya dalam acara ulang tahun
Nidji.
Berbeda dengan Letto, Ndiji menghentak dengan karakternya yang lugas. Kesederhanaan
bahasa diramu dengan musik yang mengalun rancak dan tingkah pola Giring yang
lincah. Kau dan Aku, Hapus Aku, Shadow adalah beberapa single yang dimuntahkan
oleh Nidji.
”Kau s’makin menjauh. Kau
tetap menjauh dari aku”
”Kau dan aku selalu untuk
selamanya. Kau dan aku selalu untuk bersama”
”Sadarkan aku Tuhan dia
bukan milikku. Biarkan waktu waktu hapus aku. Yakinkah aku Tuhan dia bukan
milikku. Biarkan waktu waktu hapus aku”
adalah sebagaian kelugasan yang disuarakan oleh Nidji. Atau tepatnya
dinyanyikan oleh Giring. Kesederhanaan lirik ini diimbangi dengan kelarutan
musik yang membuncah dan gaya Giring yang memukau menarik pandang. Alhasil
adalah orkestrasi musik Nidji yang meriah, heboh, berenergi. Simfoni telah
diciptakan dengan sempurna. Kesatuan yang menyuarakan keunggulan.
Kembali kepada Letto yang terpisah dari barisan lagu-lagu Nidji. Letto
punya kompleksitas lirik yang berbeda dengan Nidji. Oleh karena itu,
keanggunannya dipisahkan dari hentakan gegap gempita Nidji. Musiknya yang
mengalun sederhana bak air yang mengalir dihiasi dengan suara Noy yang halus
melantukan kata-kata indah. Ini juga merupakan orkestrasi keunggulan. Coba
rasakan!:
”Kau datang dan pergi o
begitu saja. Semua ku terima apa adanya. Mata terpejam dan hati menggumam. Di
ruang rindu kita bertemu”
”Ingatkah engkau kepada embun
pagi bersahaja yang menemanimu sebelum cahaya. Ingatkah engkau kepada angin
yang berhembus mesra yang kan membelaimu cinta”
Ketidakbersandingan Nidji dan Letto adalah karena keduanya punya kekuatan
khas yang berbeda. Sang sutradara panggung telah membagi lini kekuatan dengan
apik. Seperti halnya jamu atau obat yang digunakan untuk kegunaan kesehatan
tertentu, materi lagu dan vokal Noy tidak cocok untuk para musisi Nidji yang
dahsyat. Begitu juga sebaliknya, alunan musik Letto yang lembut akan memperlemah
bahkan mematikan gerak Giring jika keduanya dipadukan. Inilah karakter yang
menempati posisinya yang tepat. Bisa saja Noy ikut menyanyikan lagu Ndiji
bersama Giring. Tetapi
sutradara tidak mau menghilangkan karakter Letto. Berbeda dengan Dani, Arman, Ariel
yang dari sononya punya hentakan yang hampir sama. Mereka lebih greng jika
disatukan dengan gegarnya musik Nidji.
Orkestrasi nan indah tidak hanya terjadi dalam Nidji (beserta gerombolan
vokalis) atau Letto saja. Penataan yang cerdas juga terjadi pada skenario
panggung, dimana Letto masih tetap menonjolkan kelembuatannya yang mendayu dan
Nidji gayeng dengan hentakannya yang enerjik. Keduanya tercipta dalam hidup
yang larut dengan alunan musiknya. Jika bersenandung dengan Letto, maka
kelarutan akan terbawa pada pilihan kata dan alunan kalimat yang mempesona,
tidak jarang bikin merinding atau air mata mengalir. Sedangkan bila
bercengkerama dengan Nidji, maka kita melarut dalam gegap gempitanya yang
kadang tanpa terasa membuat kaki tersentak, tangan bergerak dan mulut bersorak
[ ]
“Berarti kamu mencintaiku?”, Tanya MJ pada Peter Parker
“Iya”, jawab Peter singkat.
Mereka berdua saling senyum, meski Peter sedang menahan besi beribu-ribu pon.
“Ini... sangat... berat” Kata Peter, masih dengan tetap tersenyum.
Ini adalah cuplikan yang tidak teralalu letterlij dari film Spiderman 2. Secuil adegan ini memberikan ruang belajar yang luas untuk beberapa hal yang lahir dari nuansa dan suasana yang melingkupi MJ dan Peter Parker. Terdapat dua ruang pembelajaran yang berbeda dari bagian film ini. Ruang pertama adalah konteks film dan yang kedua adalah konteks kehidupan real di luar film.
Apa yang ditanyakan MJ dan dinyatakan oleh Parker adalah tanya jawab yang sebelumnya memang berawal dari perhelatan batin yang panjang. Selama ini Peter selalu mengingkari perasaannya bahwa ia mencintai MJ. Keadaan yang mendesak menjadikan kata itu terlontar begitu sederhana, “Iya”. Kata yang bisa dirasakan begitu romantisnya daripada tiga kata yang lebih panjang, “I love you”.
Mari kita cermati bagian yang lain dari film yang sama,
“Ini tidak mudah” kata Peter, sambil melepaskan pegangan tangan MJ.
“Kamu memperumitnya”, sergah MJ.
MJ berusaha untuk menjadikan semuanya lebih simpel. Ia meninggalkan Peter ketika ia ditolak untuk pertama kali (Spiderman pertama). MJ memilih orang yang mencintainya dengan berusaha menampakkan ia benar-benar sedang mencinta. Maksudnya, ia mengingkari hatinya yang masih terpaut pada Peter. Keterpautan ini dibekukan pada sakit hati ketika ia ditolak. Ternyata sakit hati dan cinta berdiri sendiri-sendiri, membentuk kubu yang menjadi kekuatan untuk menggerakkan kehendak. Apa yang dilakukan MJ seperti apa yang disenandungkan oleh Dewa dengan cintailah cinta, atau apa yang dipetuahkan oleh Melly dan KD, cintailah dia yang mencintaimu. Sebuah simplisitas yang diserahkan pada hukum stimulus dan respon. Ternyata memang tidak semudah itu, karena kekuatan eksitasi (pendorong) dan inhibisi (penghambat) saling bertentangan. Akhirnya simplisitas lebih mengikuti kata hati untuk kembali kepada Peter. MJ melarikan diri dengan gaun pengantinnya untuk menemui Peter.
Berbeda dengan Peter yang dikatakan oleh MJ memperumit. Penolakan yang masih tak jelas buat MJ dilakukan dengan berat oleh Peter untuk menyelamatkan MJ dari musuh-musuh Spiderman. Yang dipilih oleh Peter adalah seperti lagu yang juga dilantukan oleh Dewa, cinta tak harus memiliki. Peter dikatakan memperumit oleh MJ, padahal sebenarnya MJ telah masuk dalam kerumitannya sendiri. Bedanya, Peter melakukan dengan sadar atas pertimbangan tertentu, sementara MJ lebih mengikuti kata hati yang sebenarnya juga kamuflase.
Pengingkaran hati yang dilakukan oleh Peter maupun MJ merupakan hal berat yang akhirnya dibayar dengan beberapa kali mengalirkan air mata. Bahkan pengingkaran ini lebih berat daripada reruntuhan yang ditahan oleh Peter sambil tersenyum, meskipun ia mengatakan berat (pada cuplikan pertama).
Menengok pada kata berat yang diucapkan Peter, kadang bahasa memang membuat hati sedikit ringan untuk dilepaskan dari bebannya. Tapi kata tidak cukup mewakili sepenuhnya apa yang dirasakan di hati. Setiadaknya kata akan membentuk realita, itu yang akan terjadi. Lalu apakah dengan mengatakan berat kemudian semuanya akan menajdi berat? Bisa jadi demikian. Namun lagi-lagi tidak sesimpel itu. Pada waktu Peter mengatakan berat, hatinya mungkin mengucapkan ringan. Atau cinta yang membuat ringan sehingga mulutnyapun begitu mudah untuk mengatakan berat. Dan pada waktu itu bisa jadi kata berat tidak menemui makna yang sesunggunya.
Ada dua prasangka paling tidak yang mungkin terjadi sehubungan dengan kata berat ini. Pertama, Peter merasakan kenikmatan kejujuran ketika segalanya berasa ringan. Secara fisik apa yang dipikulnya memang berat, tetapi hal ini hanya bisa dikatakan bersamaan dengan beban hati yang semakin ringan. Sehingga dua hal yang bertentangan ini membentuk konstruksi makna baru yang terkonversi, berat tetapi ringan atau ringan tetapi berat. Lebih tepatnya sebenarnya berat dan ringan sekaligus. Kedua, Peter disangkakan mengungkapkan kelugasan bahwa melindungi MJ itu memang berat, seberat besi yang sedang ditahannya agar tidak menimpa MJ. Biasanya sebagian para wanita terjebak pada prasangka kedua yang akhirnya terjadi kesalahpahaman yang melukai lelaki. Memang, lelaki juga merasakan kebahagiaan jika usaha keras yang ia lakukan untuk wanitanya bermakna secara nyata di hati si wanita. Ketika MJ bisa merasakan betapa berat besi yang dipikul Peter, itu mungkin sudah cukup membuat Peter bahagia. Sedikit saja pembelajaran reflektif akan membuat MJ tau bahwa apa yang ditanggung di benak Peter jauh lebih berat, meski analoginya masih bisa ditautkan.
Sebenarnya pertemuan antara Peter Parker dan Mary Jane adalah dialog antara simplisitas dan kompleksita. Pertimbangan rasio telah merumitkan jalan hidup Peter Parker. Sementara itu aksi reaksi yang terjadi dalam kehidupan Mary Jane telah menempatkannya pada ruang simplisitas. Namun demikian, pada dasarnya keduanya terjebak dalam kerumitan mereka sendiri. Kerumitan ini terjadi ketika keduanya menolak kata hati. Apa yang dilakukan Mary Jane dengan mencintai orang yang mencintainya sekilas tampak simpel. Tetapi pengingkaran hati telah menjadikan Mary Jane rumit dalam dirinya. Simplisitas aksi reaksi yang dilakukan oleh Mary Jane telah mengundang kerumitannya sendiri. Sementara Peter Parker telah menampakkan kerumitannya dari awal. Interaksi antara wilayah internal dirinya dan pertimbangan eksternal keselamatan Mary Jane memunculkan konflik batin yang membuat rumit. Semuanya baru terjawab ketika keduanya menyerahkan pada simplisitas suara hati.
Bagaimana simplisitas ini bisa dimenangkan, ternyata pergulatan keduanya (kompleksitas dan simplisitas) melahirkan unsur ketiga. Keadaan yang menekan mengawinkan dua unsur untuk melahirkan fleksibilitas. Tekanan yang bertubi-tubi dari gencarnya serangan musuh Spiderman menjadikan kata “Aku cinta kamu” yang tidak pernah diucapkan oleh Peter Parker kepada Mary Jane tergantikan dengan senyum dan jawaban, “Iya”. Menari dengan irama alam, musik kondisi dan situasi, telah menjadikan gerak hati, pikiran dan tubuh begitu gemulai untuk memilih secara alami. Bukan pikiran, hati atau tubuh yang menang, tetapi kealamiahan diri untuk berpadu secara harmonis dengan keadaan yang muncul sebagai jawaban kebahagiaan [ ]
“My Lovely Campus”. Tulisan yang begitu indah. Keindahan yang simultan dalam media belajar manusia: mata, telinga, dan hati. Tulisan ini tidak muncul semena-mena. Tulisan ini juga tidak ditemui di kampus, tulisan ini juga bukan dikenal ketika saya terlibat dalam “Airlangga Impian”. Tulisan ini muncul dari hati. Namun hati jua yang merasakan ketika saya lulus, berpisah dengan kampus. Syukur alhamdulillah, ternyata saya masih diberikan kesempatan untuk berhubungan dengan my lovely campus. Saya masih bisa datang ke kampus. Tapi lagi-lagi hati yang merasakan ketika teguran terdengar, “Sudah lulus kok masih di sini?!”. Sepertinya memang sudah ‘harus’ terpisahkan antara bermain, belajar, dan bekerja. Karena kesadaran akan hal ini, saya jadi enggan untuk menjawab, “Pengen main aja” atau “Saya lagi ada kerjaan dengan dosen”. Sepertinya kampus menjadi lingkungan yang steril.
Sampai suatu ketika datang kesempatan untuk kuliah di my lovely campus. Dengan bersusah payah mengumpulkan duit untuk daftar dan bayar matrikulasi, saya akhirnya punya alasan untuk menjejakkan kaki kembali di my lovely campus. Namun apa daya cinta memang tek terbeli, cinta bukan barang dagangan. Akhirnya datang waktu ketika saya harus kehilangan kesempatan untuk menjadi warga kampus. Rasanya memang salah jika mengira cinta bisa dibeli. Sandungan biaya menjadikan saya kembali merasakan betapa kampus seperti desinfectan.
Ucap syukur tetap mengalir, karena segala keputusan adalah yang terbaik buat saya. Keterpisahan dengan kampus bukan berarti keterpisahan hati. Meski kehadiran di kampus akan kembali diungkit dengan pertanyaan yang sama, namun hati yang terusik akan menemukan cintanya kembali. Jika memang ini adalah akhir perjalanan di kampus, cinta tak pernah berakhir.
Tulisan ini hanya sebuah surat buat my lovely campus. Tidak tertuju pada siapa pun, just my lovely campus. Bagi “Siapa-siapa” yang telah membantu saya, memberikan keringanan dan kemudahan, berbagi ilmu, seluruh dosen-dosen dan guru-guru saya di my lovely campus, saya mengucapkan terimakasih yang tak terhingga. Mudah-mudahan selalu ada tempat dan waktu untuk kita bisa saling belajar. My great love for you.